Tampilkan postingan dengan label CERPEN REALIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN REALIS. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 November 2008

Alangkah Senangnya Aku Bersamamu

Bahwa kamu punya rumah di mana-mana, pertama kali aku dengar dari ayah. Lalu ibu turut pula meyakinkannya.

Juga di suatu tempat di mana setiap pagi aku digiring bersama anak-anak sebayaku oleh seorang perempuan cantik berbaju bersih. Kami digiring untuk bernyanyi. Kami digiring untuk bertepuk-tepuk tangan, berlari berputar-putar membentuk lingkaran, melompat-lompat di halaman dan lain sebagainya yang sering aku rasa sangat aneh dan menakjubkan. Aneh. Tapi, ah tidak. Pada dasarnya aku kira diriku saja yang sedikit lamban. Coba, untuk memahami bahwa tempat yang aku maksudkan ini adalah sebuah taman kanak-kanak saja, aku mesti melewati jangka waktu yang tidak sedikit. Sampai aku dan teman-teman sudah mahir menyanyikan beberapa buah lagu yang juga tidak kupahami benar maksudnya.

“Pelangi pelangi alangkah indahmu. Merah kuning hijau di langit yang biru. Pelukismu agung, siapa gerangan?” Aku hapal ada sebuah lagu yang menyebutkan bahwa kamulah yang melukis pelangi di angkasa itu. Lagu itu pula yang pertama menumbuhkan kekagumanku yang luar biasa padamu. Pikirku, alangkah hebatnya kamu. Melukis pelangi di angkasa. Tangga macam apakah yang telah kamu pergunakan untuk pekerjaan seperti itu?
Pertanyaan ini sempat membuat aku sakit hati. Sebab ketika aku utarakan di rumah, aku malah ditertawakan oleh seluruh saudara-saudaraku. Tiga orang kakakku, dua laki-laki dan satu perempuan. Bahkan tidak hanya sekedar tertawa. Mereka bahkan menonjok-nonjok jidatku dengan telunjuknya yang besar-besar. Aku tidak menangis memang. Aku tekankan, aku tidak menangis. Hanya nelangsa. Sedikit mendekati luka. Dan aku bertanya-tanya sendiri; besar sekalikah kesalahanku karena pertanyaan itu?
Tapi untunglah ayah segera menegur ketiga kakakku itu, sehingga mereka serentak diam. Ayah lalu menjelaskan perihal bagaimana kamu melukis pelangi di angkasa.
“Ya, sayang, tentu saja dia melukis pelangi itu dengan tangga yang sangat tinggi.”
“Tangga dari bambu atau dari kayu?” aku masih penasaran.
“Dari bambu.”
“Kenapa dari bambu?”
“Sebab bambu lebih mudah menebangnya dan juga besarnya sama. Sulit mencari banyak kayu yang besarnya sama.”
“Kenapa banyak?”
“Karena tempatnya tinggi, jadi harus disambung-sambung.”
“Bambu gampang disambung?”
“Ya, bambu gampang disambung.”
“Siapa yang membantunya membuat tangga?”
“Semua orang membantunya. Setiap orang menanam bambu agar dia tidak kekurangan bahan tangga.”
“Ayah juga menanam bambu?”
“Dulu kakek yang menanam.”
“Sekarang kakek di mana?”
“Sedang membantunya membuat tangga.”
“Kok kakek tidak pulang-pulang?”
“Karena masih banyak tangga yang harus dibuat.”
“Kok banyak?”
“Karena pelangi harus dilukis di mana-mana?”
“Banyak?”
“Ya, banyak.”
“Untuk apa?”
“Untuk membuat langit menjadi indah.”
“Langitnya siapa?”
“Langit semua orang.”
“Apa besok dia akan melukis pelangi lagi?”
“Mungkin.”
“Horreee! Besok kita akan melihat pelangi lagi!”
“Ya. Besok kita akan melihat pelangi lagi, sayang.”

Semua penjelasan ayah membuat aku terpesona padamu. Aku terpesona padamu.

Pada suatu malam, aku tidak turut bergabung bersama saudara-saudaraku yang bermain perang-perangan di halaman belakang. Aku duduk saja di ruang tengah di sebelah ibu yang sibuk denga renda-rendanya. Aku pandangi jari-jemari ibu yang bergerak lincah dan lembut di antara jarum dan benang-benang yang berwarna-warni. Aku pandangi wajah ibu yang anggun dalam kesuntukannya. Entah beberapa lama, tiba-tiba aku tidak melihat ibu yang merenda lagi, tetapi aku melihat kamu yang asyik melukis pelangi di angkasa. Tiba-tiba aku merasa dadaku berdebar dengan hebat. Aku melihat kamu melukis pelangi di angkasa. Aku jadi takut. Aku takut kehilangan ibu. Aku panik, lalu menjerit-jerit memanggil ibu. Ya, aku menjerit-jerit sekuatnya. Sampai tak ada kekuatan lagi padaku. Sampai aku lelah dan tertidur.
Selanjutnya, setelah aku menjerit-jerit itu, aku menjadi terbiasa setiap tidur bertemu denganmu. Kamu masih ingat bukan? Setiap kita bertemu, kamu selalu mengajakku ke suatu tempat yang tidak seorang lain pun ada kecuali kita. Sepanjang pertemuan itu kamu mengajakku ke dalam berbagai macam permainan. Dan kamu memang berbeda dengan teman-temanku yang lain. Kamu tidak pernah marah atau menjejalkan kesalahan hanya kepadaku bila suatu saat permainan kita tidak berjalan sebaik biasanya. Dalam hatiku, diam-diam tumbuh lagi sebuah kekaguman yang lain. Kamu sungguh bijaksana. Dan inilah yang lama-lama membuatku tidak begitu betah lagi bergabung dengan teman-temanku di sekolah atau di lorong di depan rumah. Habis, mereka semua kasar-kasar terhadapku. Kesalahan macam apapun yang terjadi dalam permainan kami, mereka pasti menudingku sebagai sumbernya. Mata mereka mendelik sembari berteriak-teriak: “Bodoh kamu!” “Pandir kamu!”

Wahai! Walau dengan menangis sesenggukan pun aku tak dapat menolong diriku bila keadaan sudah demikian.

Meskipun setiap saat aku masih suka duduk-duduk, berlari-larian atau berjalan-jalan di tengah-tengah teman yang lain, kita: aku dan kamu, punya cara bermain yang lain. Ketika aku sedih karena ditolak ikut bermain kelereng dalam rombongan Si Agus, kamu malah menghiburku dengan merubah dirimu menjadi kelereng yang mereka mainkan itu. Alangkah lucu dan manisnya kamu jadi kelereng. Aku sampai terpingkal-pingkal melihatmu. Tapi karena aku tertawa itulah aku disalahkan lagi oleh mereka.
“Diam kamu! Kenapa tertawa? Mengejek aku ya?”
“Ya. Pasti dia mengejek karena kamu kalah dariku.”
“Awas kamu! Pergi! Kamu mengganggu saja!”
“Ah, biarkan saja dia. Dia kan cuma menonton?”
“Tapi dia menertawai aku. Makanya aku kalah!”
“Ya, sudah. Kita usir saja dia!”
“Ayo pergi jauh-jauh! Awas mendekat lagi!”

Mereka mengusirku. Mereka kira aku menertawakan permainannya. Padahal aku tertawa karena melihatmu lucu sekali menjadi kelereng. Maka sambil menangis aku pergi menjauh. Aku sedih karena dikucilkan. Tapi, eh, kamu malah memecahkan dirimu dan berhenti menjadi kelereng yang mereka mainkan itu. Kamu menyusulku dan menemaniku lagi dengan menjadi kupu-kupu. Lalu kita berkejaran di atas rumput mencari bunga-bunga yang bermekaran.

Ya, setiap saat kamu selalu menemani dan meluangkan waktu untukku. Sampai sekarang. Sampai dunia ini menjadi kenyataan bagiku. Sampai aku menjadi kenyataan bagi dunia. Ketika aku lapar, kamu menjelma menjadi makanan yang dihidangkan ibuku. Ketika aku perlu pakaian dan rumah, kamu menjelma menjadi pakaian dan rumah yang dikerjakan ibu dan ayahku. Ketika aku perlu laut, kamu menjadi laut yang terhampar di depanku. Ketika aku ingin melihat gunung, kamu menjadi gunung yang tegak kokoh di depanku. Ketika aku ingin ada yang mencintai dengan tulus, kamu mencintaiku dengan tulus. Alangkah tulusnya kamu. Alangkah…, alangkah senangnya aku bersamamu!***
Suatu saat

Read More......

Selasa, 07 Oktober 2008

Pikiran yang Tak Bahagia

Aku ingin sekali pergi ke rumah saudara (sepupu misalnya), di suatu tempat yang jauh sekali, membawa oleh-oleh dan kedatanganku membuat mereka bahagia. Aku ingin naik bus tua, lalu menuju rumah sudara itu (sepupu misalnya), naik angkutan tradisional, melihat sawah di kiri-kanan. Selanjutnya aku ingin jatuh cinta kepada anak gadis tetangga saudara (sepupu misalnya) yang kukunjungi itu, lalu kami sering berjalan-jalan di antara anak-anak tetangga lainnya yang bermain sepanjang siang.

Ketika aku harus pulang, anak gadis tetangga itu menangis. Aku jadi terus kangen padanya. Tapi masalahnya aku tak punya saudara (sepupu misalnya), yang tinggal sejauh bayangan dalam pikiranku. Dan juga mungkin aku tak punya saudara (sepupu misalnya), yang akan bahagia bila kukunjungi.
nanoq da kansas

Read More......

Selasa, 26 Agustus 2008

Sapu

ORANG TUA itu dengan memelas memandang saya. Matanya yang cekung mengingatkan saya pada sebuah sumur di tengah-tengah bukit yang tandus. Sebuah bukit yang mengering dengan rekahan-rekahan tanah menganga, membentuk garis berliku-liku dan keras. Nafasnya mengingatkan saya pada lenguh kerbau yang sedang menghela gerobak dengan muatan bertumpuk. Kerbau ringkih, kurus dan tertatih karena tidak ada pilihan lain kecuali menghela saja beban itu.

Dua potong siku yang keluar dari lengan bajunya yang kumal dan berjamur, tertekuk dan bertelekan pada bibir meja, memberi sebuah bayangan pada berbagai pekerjaan yang menuntut penyelesaian bertahun-tahun, mengingatkan saya pada otot-otot meregang dan perih terbakar panas dan hujan. Jari-jemari yang kasar dan keras karena tercelup ke dalam adonan kehidupan pedesaan yang keras tetapi sahaja. Rambutnya mengingatkan masa kecil saya, di saat saya mengulur-ulur benang layangan di atas hamparan ladang kosong yang hanya dipenuhi oleh lalang-lalang yang sedang berbunga.

Bibirnya yang gemetar itu mengingatkan saya pada sebuah ketakutan di tengah-tengah suatu keterpaksaan. Seperti orang kebelet.
“Mohon. Saya mohon pohon cempaka putih itu jangan ditebang. Saya mohon, Pak Kepala Desa,” dia menghiba di depan saya. Saya diam. Saya pandangi saja dia. Saya menunggu dan membiarkan dia mengeluarkan segala yang hendak diucapkannya.
“Pohon cempaka putih itu adalah satu-satunya milik desa ini yang hasilnya dapat dinikmati bersama-sama oleh penduduk. Setiap hari-hari suci, atau setiap hendak melaksanakan upacara, mereka pasti mencari bunga itu. Anak-anak dan gadis-gadis remaja yang akan bersembahyang atau sehabis mengeramasi rambutnya, selalu pula mencari bunga itu. Setiap orang seakan merasa ada sesuatu yang kurang tanpa bunga cempaka itu. Entahlah, Pak Kepala Desa, pokoknya selama puluhan tahun saya dapat merasakan bahwa kesatuan dan kerukunan orang-orang di desa ini terwujud di bawah pohon cempaka putih itu. Oh, saya kira Bapak Kepala Desa telah tahu dan paham benar serta telah ikut pula merasakan hal itu. Bukankah Bapak selama ini telah melihat, bahwa setelah anak-anak muda pulang berlibur dari tempat kerja atau sekolah mereka di kota atau di luar pulau ini ketika hari raya tiba, mereka datang beramai-ramai ke pohon cempaka putih itu? Lalu sambil memetik bunganya, di bawah pohon cempaka putih itu pula mereka saling melepas rindu. Mereka bercanda atau bercerita setelah sekian lama tak saling bertemu. Bahkan banyak anak-anak muda desa ini yang mengikat cinta dan kasihnya di bawah pohon cempaka putih itu. Bukankah kita yang tua-tua selama ini telah begitu tenteram menyaksikan semua itu? Oh, rasanya tidak mungkin kehidupan di desa ini bisa bercahaya tanpa pohon cempaka putih itu. Sungguh. Sekali lagi saya mohon, Pak Kepala Desa, saya mohon jangan ditebang.”
Orang tua itu menarik nafas. Sekarang matanya terpejam. Dan dia menyandarkan kepalanya dengan lunglai di sandaran kursi tempat dia duduk.

Saya masih diam. Sementara keringat mulai melembabkan leher kemeja dinas saya. Saya perhatikan sekujur tubuh tua itu dengan lebih seksama. Saya nikmati gerak nafas yang kian kembang kempis ketika dia dengan agak kesulitan meredakan batuk yang tiba-tiba menyerangnya. Dan ini semakin mengingatkan saya pada kerbau ringkih yang menapaki jalan licin dan menanjak. Sementara sang sais dengan suara parau memukul-mukulkan ujung cemetinya dari atas gerobak yang berkreat-kreot. Di atas, matahari seperti hendak melelehkan daun-daun dan segala pepohonan.

Saya sodorkan gelas teh saya yang belum sempat saya minum. Tapi orang tua itu menolak dengan mengembangkan telapak tangan kanannya. Lalu tangan itu menekan dadanya. Saya menyulut sebatang rokok.

Sementara di ruang sebelah, para staf saya sibuk dengan suara-suara mesin ketiknya yang kacau. Sibuk dengan obrolan-obrolan dan kelakar bersama penduduk desa yang sedang mengurus pembayaran ganti rugi pembebasan tanahnya. Suara mereka ribut. Mendengung bagai suara lebah mencari sarang.

“Setelah dapat uang ini, bapak mau beli apa?” Kepala Urusan Pembangunan yang ruangannya persis di sebelah kanan ruangan saya terdengar bertanya entah kepada siapa.

“Tidak tahu pak, utang saya banyak. Paling-paling habis di situ.”

“Kenapa banyak utang?”

“Yah namanya petani kecil begini, Pak. Hasil kebun saja tidak cukup dimakan. Apalagi anak saya banyak. Mana beli pakaiannya. Mana bayar biaya sekolahnya. Payah, Pak.”

“Bapak tidak ikut KB?”

“Wah terlambat, Pak. Ha ha ha…, dan zaman-zaman pengantenan saya dulu belum ada KB seperti sekarang. Hahaha…”

“O, ya ya saya lupa hahaha…. Nah, kalau bapak yang ini, mau diapakan nanti uangnya?”

“Hmmm… rencananya saya mau simpan di bank, Pak. Tapi anak-anak minta beli TV baru. Istri saya nyuruh beli motor biar bisa dipakai ngojek. Yah, masih bingung saya.”

“Hahaha…, jangan lama-lama bingungnya lho, Pak. Berbahaya. Hahaha….”

“Ah, bapak ini ada-ada saja….”

Di sebelahnya lagi, di ruang Kepala Urusan Keuangan, obrolan yang sama juga tak kalah ramainya.
“Mau diapakan nanti uangnya, bu?”

“Saya mau buka warung saja, Pak. Saya tidak kuat kerja yang lain. Sejak suami saya meninggal, kebun itu saya suruh orang lain mengerjakannya. Bagi hasil begitu.”

“Apa selama ini hasilnya cukup?”

“Ya dicukup-cukupkan, Pak. Habis mau bagaimana lagi? Anak-anak saya masih kecil-kecil. Belum bisa menggantikan ayahnya untuk mengerjakan kebun.”

“Sekarang bagaimana perasaan ibu?”

“Aduh, bagaimana ya? Sebenarnya sayang juga kebun itu saya lepas. Rasanya ada dosa sama almarhum suami saya. Dulu kebun itu kami beli dengan tabungan kami sejak masih pengantin baru. Tapi bagaimana ya? Orang katanya ini demi kepentingan orang banyak, yah, saya iklas saja.”

Obrolan-obrolan seperti itu berlangsung terus. Sambung-menyambung Ribut. Bagai suara lebah madu mencari sarang. Mendengung di setiap sudut kantor saya.

Saya mengisap rokok sedalam-dalamnya. Gumpalan asap yang keruh itu terasa mendesak di dada. Menekan sampai ke rusuk-rusuk. Nyaris saya tersedak. Lalu rokok itu saya kucekkan di asbak.

Kembali saya pandangi kedua mata cekung itu. Saya mencoba mencari sesuatu di sana. Sesuatu yang dapat dijadikan kekuatan untuk membantu bibir saya mengucapkan sebuah jawaban. Kami jadi saling pandang. Saya lihat bibir bawah mata cekung itu bergetar. Tapi saya pandangi terus. Sampai kekuatan itu saya dapatkan dan berkumpul di ubun-ubun saya. Menjalar ke pipi saya, lalu ke mulut saya. Kemudian akhirnya meletus dengan lirih dan saya sendiri nyaris tak mendengar suara saya. “Tidak. Pohon cempaka putih itu harus ditebang. Kalau tidak, pohon itu akan mengganggu kelancaran pembangunan proyek itu. Maaf, Pak Tua. Besok pagi kita akan menebangnya!”
Lalu orang tua itu saya tinggalkan. Saya keluar dari ruang kerja saya. Masih banyak sekali proyek yang harus ditangani lagi. Saya kekurangan waktu!

bali suatu hari

Read More......

Rabu, 06 Agustus 2008

Dari Rumah Leak Di Sanur Itu

“AKU pulang,” ujarnya senja itu. Dia, Godam sahabatku, datang ke rumah kontrakanku di pinggir kota di atas tebing kali itu. Rambut gondrongnya terlihat lebih rapi dan mengkilat, seperti biasa dibiarkannya terurai melewati pundak. Kemejanya masih berwarna hitam. Celananya masih jeans. Sepatunya masih chiko. Dan, dua cincin perak berukir naga di telunjuk, tiga di jari tengah serta dua di jari manisnya masih juga bertengger.
Dia berdiri saja di halaman. Aku menolehnya sepintas lalu saling tertawa seperti yang biasa kami lakukan setiap bertemu.
“Kenapa pulang?”
“Ada teman membeli seratus lukisanku di Bandung. Hanya untuk hiasan di dinding hotelnya. Hanya hiasan,” jawabnya datar.
“He he he. Artinya kamu sedang banyak uang.”
“Ya, lumayan. Aku mau bikin studio di Ubud. Aku juga boyong anak-anak dan istriku. Besok kami sudah ke Ubud.”
“Baguslah. Nanti aku bisa mampir ke situ.”
Kami lalu ngobrol hal-hal lain.

ITU pertemuan kami terakhir tiga tahun yang lalu. Selanjutnya kami tak saling mengontak lagi. Kabar yang kudengar tentangnya pun tak pernah jelas. Ada teman mengatakan dia pindah ke Sanur. Ada yang bilang dia kost di Denpasar. Ada lagi yang bilang ke Surabaya. Ada yang membawa kabar dia sudah bercerai dengan istrinya. Terakhir, seorang teman lagi mengatakan dia kini menekuni semacam ajaran spiritual tertentu. “Dia sekarang rajin semadhi dan menekuni lontar kuno,” demikian teman itu.

Untuk kabar yang terakhir ini pun, aku masih tak menanggapinya serius. Aku tahu betul watak dan perilaku Godam yang pembosan. Sejak kami masih di bangku SD dia juga sudah sering berperilaku aneh-aneh agak mendekati mistik. Saat itu dia sering mengaku bisa melihat mahluk halus yang di daerah kami disebut wong samar, terutama bila kami sedang bermain di kali, di bukit-bukit atau di kebun orang mencari ranting bambu untuk bedil-bedilan. Aku sendiri saat itu tak pernah risau atau merasa takut dengan omongan atau perilakunya itu. Soalnya aku tak pernah percaya.

SIANG itu, seorang teman yang punya kios koran datang ke rumahku. Aku sedang di studio mengerjakan sebuah logo pesanan suatu perusahaan yang baru berdiri di kota kami. “Bacalah! Macam beginilah sebagian besar koran-koran lokal kita sekarang. Klenik dan mistik bisa menjadi lebih penting dan mendapat porsi lebih besar daripada persoalan-persoalan mendasar di masyarakat. Pembodohan!” katanya bersungut-sungut seraya melemparkan sebuah koran ke mejaku.

“Tak apa toh? Bisa jadi memang itu yang lebih disenangi pembaca dan membuat korannya laris,” aku menanggapinya tanpa menyentuh koran itu. Aku tetap suntuk pada komputerku.
“Tapi yang ini beritanya sudah keterlaluan. Wartawannya juga tampak seperti memaksa menggiring pembaca untuk memfonis seseorang,” teman itu masih berkata keras.
“Memang ada apa?”
“Bacalah sendiri!”
Aku menoleh juga ke koran itu. Aku lihat sebuah headline yang ditulis dengan tinta merah. “Ditemukan Rumah Leak di Sanur” – demikian bunyinya.

“He he he. Menarik juga. Aku baca nanti saja, ya?”

“Kemarin siang di TV juga ada berita ini,” sambungnya lagi.

“TV yang mana?”

Dia menyebut sebuah stasiun televisi lokal di daerah kami.
“O ya?”

“Leak yang menempati rumah itu konon bernama Godam,” ujarnya lagi lebih semangat.
“Heh?”

“Sudahlah. Baca sajalah beritanya nanti di situ. Aku mau pulang,” teman itu mendadak pulang. Mungkin dia jengkel melihat aku tak bereaksi atas kabar yang dibawanya. Padahal, ketika dia menyebut nama itu tadi aku memang agak kaget.

Tak lama berselang, datang lagi seseorang. Dia langsung masuk ke studio, berdiri agak jauh di belakangku. Aku tak memperhatikan, pun menyapanya. Teman-teman memang sudah biasa datang seperti itu.

“Aku pulang lagi,” suara itu seperti menyengatku.
Spontan aku menoleh. Nyaris aku tak mengenalinya. Godam! Ya, Godam! Tapi sekarang dia begitu kurus dan kumal. Rambutnya yang panjang terlihat lengket karena jarang dikeramas. Dia hanya mengenakan kaos oblong putih yang sudah robek lengan kanannya dan mengenakan kamben dari kain hitam kasar yang juga sudah teramat kumal. Aku terpaku di tempat dudukku tanpa bisa berkata sepatah pun. Mungkin saat itu aku juga lupa berkedip.

“He he heh. Aku pulang,” ujarnya lagi disertai suara tawa panjang agak berat. Tiba-tiba aku merinding. Beberapa saat aku bingung dan masih tak mampu mengucapkan sepatah kata untuk menyapanya.

“Aku minta kopi,” lanjutnya masih diiringi ketawa ganjil sambil mengambil rokokku di sebelah monitor komputerku. Tangannya tampak gemetar dengan urat-urat dan tulang yang menonjol.

“Ya. Ya. Duduklah,” aku gugup.


Sambil membuatkannya kopi, dengan tergesa-gesa aku baca berita headline koran tadi yang diam-diam aku bawa ke dapur.


  • Sebuah rumah leak ditemukan di Sanur. Dalam rumah yang terletak di tanah kosong dekat pembuangan sampah tersebut warga menemukan berbagai benda sakral yang biasa dipergunakan untuk ritual mistik. Di langit-langitnya terpasang kain kafan dua kali dua meter yang penuh rajahan dan terdapat tanda tangan berbunyi Godam. Setumpuk lontar kuno juga ditemukan dengan rajah huruf Bali Kuno dan gambar-gambar mistik. Sementara di seluruh bagian dinding ditemukan berbagai potongan bambu yang dililit dan digantung benang tiga warna. Seluruh benda-benda tersebut tertata sedemikian rupa, sehingga sangat meyakinkan sebagai tempat pemujaan setan atau tempat memperdalam sekaligus mempraktekkan ilmu pangleakan.
  • Aparat kepolisian yang turut menggeledah, saat ini sudah menyegel rumah tersebut dan memasang police line serta berjanji akan mengusut pelakunya yang diduga bernama Godam. Sementara itu, pemilik asli tanah sekaligus rumah kosong tersebut, mengatakan tak tahu menahu jika rumahnya dipakai sebagai sarang leak. Dia hanya mengaku pernah melihat seorang lelaki kurus berambut panjang sering keluar-masuk rumah kosong yang dulunya dipakai sebagai bedeng penampungan buruh bangunan saat dia membangun losmen. Saat itu dia pikir bahwa lelaki tersebut mungkin orang stress atau orang gila.

  • Sampai berita ini diturunkan, Godam yang tak jelas asalnya itu belum ditemukan. Namun pemilik asli rumah telah membuat perjanjian dengan pemimpin dan masyarakat adat setempat, bahwa jika dalam dua minggu sejak hari ini rumah tersebut tidak dikosongkan, maka segala isinya akan dimusnahkan atau dibakar. Sementara itu pula, beberapa sumber dari lingkungan sekitarnya mengaku memang sering mendengar lolongan anjing dan suara tangis bayi di tengah malam dari rumah tersebut...
Demikian secara garis besar aku baca berita yang menjadi headline koran itu. Tentu saja masih sebagian besar lagi paragrafnya penuh dengan kalimat-kalimat sensasional, yang mampu menggiring pembaca untuk percaya dan meyakini bahwa rumah itu memang rumah leak atau sarang mistik.

Tanpa tahu alasan yang jelas, aku jadi tersenyum sendiri di dapur.

“Ke mana saja kamu selama ini?” aku bertanya setelah dia menyeruput kopi yang kusuguhkan.

“Heh? Aku sempat tinggal di beberapa tempat. Terakhir, di Sanur,” sahutnya masih dengan tawa panjang yang tak begitu enak didengar. Aku tertegun. Berarti dia belum tahu berita di televisi lokal dan koran itu. Sejenak aku kembali kehilangan cara untuk membuat obrolan kami menjadi lebih akrab.

“Ya, seperti aku bilang dulu, aku sempat membuat studio di Ubud,” sambungnya kemudian.
“Tapi hanya beberapa bulan, lalu aku pindah ke Denpasar. Ada teman yang mengajakku mengerjakan mural di Surabaya. Sementara teman itu juga meminjam beberapa lukisanku yang katanya akan dijual untuk seseorang dari Belanda. Di Surabaya aku hanya dua minggu. Entah mengapa, perasaanku ingin pulang saja. Ketika pulang ke Denpasar, ternyata istriku sudah meninggalkan rumah beberapa hari sebelum aku tiba. Anak-anak kami dititipkannya di tetangga. Aku bingung dan sempat kacau terutama melihat keadaan anak-anakku. Mereka lalu aku bawa pulang ke sini dan aku titip ke orang tuaku. Kemudian aku menghubungi teman yang dulu meminjam lukisan itu. Aku memintanya agar diantar ke tempat di mana dia menaruh lukisan-lukisanku. Aku dijemputnya. Tapi ternyata aku dibawa ke sebuah bedeng tempat buruh-buruh bangunan di Sanur. Di sana tinggal dua belas orang buruh yang menggarap proyek teman tadi. Karena aku tak punya uang, terpaksa aku ikut tinggal di sana.”

“Suatu hari, ketika aku pulang dari suatu tempat, seluruh buruh-buruh itu sudah pergi. Dan mereka ternyata juga membawa beberapa barang serta pakaian-pakaian milikku. Aku bingung lagi. Dan teman itu juga tak pernah muncul lagi.”

“Aku berkali-kali menghubungi teleponnya, tapi tak pernah dijawab. Sementara uangku sudah habis. Aku akhirnya memutuskan tetap tinggal di rumah itu untuk menunggunya. Aku marah. Kecewa. Putus asa,” dia meneguk kopi dan menyulut sebatang rokok lagi.

“Sekian bulan teman itu tak juga muncul. Sementara listrik dan air di rumah itu sudah diputus karena aku tak mampu membayarnya. Berbulan-bulan dalam kesepian, tanpa bekal dan uang sepeser pun, tanpa lampu, tanpa air karena entah kenapa suatu hari ada orang memasukkan bangkai anjing ke dalam sumur bekas yang sebelumnya ada di situ, aku nekat tetap tinggal dan menunggu teman itu menjemputku untuk mempertanggungjawabkan lukisan-lukisanku yang dulu dipinjamnya. Aku juga berusaha mencari pekerjaan, tapi tak pernah berhasil.”

“Selama itu kamu makan apa?” aku menyela.

“Beberapa bulan pertama aku hanya makan bayam, buah terong liar dan buah pisang yang kebetulan ada di sana. Satu tandan pisang bisa aku jadikan persediaan hingga dua atau tiga minggu. Lalu entah bagaimana awalnya, sesekali mulai ada teman-teman lama yang datang. Mereka kadang-kadang memberiku uang sedikit. Aku membeli ubi. Sehari aku makan satu ubi yang aku bakar dengan sampah-sampah di sana. Air minum aku dapat dari sebuah kafe yang tak jauh dari tempat itu. Aku menukar sebotol dua botol air mineral dengan membuatkan mereka ornamen bingkai untuk daftar menu hidangan atau menu acara mereka setiap malam minggu.”

“Aku berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang kafe itu, berharap aku diterima sebagai karyawannya. Tapi mereka tak percaya kalau aku orang waras. Mereka menganggap aku orang setengah gila yang bisa melukis. Itu saja. Mereka tak percaya aku waras karena melihat pakaianku yang kumal dan bau. Saat itu memang hanya tersisa satu celana jean belel, satu celana pendek dan dua buah kaos oblong. Berbulan-bulan aku tak pernah mandi dan mencuci dengan sabun.”

“Kenapa kamu tak pulang saja?” aku memotongnya lagi.

Pertanyaan ini membuatnya terdiam. Lama aku menunggu, tapi dia seperti tak mau bicara lagi. Aku jadi merasa bersalah.

“Selama itu kamu hanya hidup seperti itu saja? Hanya diam saja di rumah itu?” akhirnya setelah dia masih terdiam cukup lama aku kembali bertanya.

“Oh, tidak!” dia langsung menyergap pertanyaanku itu. “Kesepian, kegelapan dan kemiskinan itu akhirnya lama-lama aku nikmati. Aku pikir sekalian aku melakukan tapabrata sebagaimana jaman dulu orang bertapa di hutan. Aku justru menggunakan kesempatan itu untuk menggali-gali imajinasi yang ada di kepalaku. Dengan meditasi sederhana setiap hari, aku menggali-gali, mengingat lalu mengkristalisasikan kepingan-kepingan teori ilmiah yang aku dapat di kuliah seni rupa ITB dulu. Aku menemukan sepotong kain putih bekas di tumpukan kayu bekas bangunan. Aku melukisinya dengan arang dicampur getah pohon jarak berupa ornamen-ornamen rajah Bali yang memang aku minati sejak masih kuliah. Dengan sedikit sisa uang dari teman-teman yang sesekali datang, aku membeli daun lontar dan jarum, karena tak mungkin membeli kain atau kanvas apalagi kuas dan cat. Di daun-daun lontar itulah aku melukis dengan jarum. Lama-lama aku semakin akrab dengan rajah-rajah itu. Sesekali aku sembahyang meminta ijin Dewi Saraswati dan leluhurku untuk memindahkan huruf-huruf rajah itu menjadi bentuk-bentuk rupa di atas daun lontar yang bisa kupetik di sekitar tempat itu. Rajah-rajah itu aku pindahkan ke daun lontar sekemampuan imajinasi dan kontemplasiku. Di samping itu, bambu-bambu sisa bangunan yang berserakan di tanah kosong itu juga aku jadikan media meditatifku sekaligus untuk melupakan rasa lapar. Aku lilitkan benang merah, kuning dan hitam dengan pola perhitungan yang aku ciptakan sendiri. Aku menemukan ranting dan dedaunan kering, juga aku jadikan media yang sama. Suatu hari aku menemukan sebutir kelapa busuk bekas sesajen di tumpukan sampah. Ketika aku tuangkan isinya yang busuk itu, aku melihatnya ada unsur minyak di sana. Minyak dari kelapa busuk itu lalu aku olah dengan arang dari kayu tertentu untuk proses menghitamkan lontar yang telah aku rajah.”

“Dua tahun lebih itu aku lakukan. Memasuki tahun ketiga, di awal bulan ini, tiba-tiba aku merasa menemukan sebuah konsep untuk karya-karya itu. Bahwa semua itu bisa menjadi sebuah instalasi meditatif dari perjalanan hidupku sendiri. Aku lalu menyusun ulang seluruh benda-benda itu. Dan hari itu, aku merasa semuanya sudah selesai. Aku tiba-tiba begitu merindukan anak-anakku yang tak pernah aku jenguk sekali pun. Aku memutuskan pulang. Dengan uang pemberian seorang teman aku bisa pulang. Sudah seminggu lebih aku di sini. Sekarang aku memutuskan untuk mengurus sendiri anak-anakku. Yang paling besar ternyata sekarang sudah kelas dua SD,” dia berhenti sambil menarik nafas panjang seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam dadanya.

Aku memejamkan mata. Tak tahu apa lagi yang harus aku tanyakan atau diobrolkan dengannya. Kami tetap sama-sama diam sampai hari telah menjadi sore dan dia pulang dengan langkahnya yang agak gontai. Entahlah, aku lupa untuk mengantarnya dengan motorku.

Baru saja aku mau mandi, tiba-tiba aku dengar anak tetangga sebelah berteriak di rumahnya. “Rumah leak dibakar! Rumah leak dibakar! Di TV ada rumah leak dibakar!” Aku kaget dan langsung menghidupkan televisi. Ya, dalam siaran berita sebuah televisi lokal, aku lihat sekelompok massa di suatu kawasan di Sanur sedang mengobrak-abrik sebuah rumah kecil kumuh di atas sebidang tanah kosong. Aku lihat orang-orang membongkar rangkaian bambu penuh lilitan benang merah kuning hitam, orang-orang membakar selembar kai putih penuh rajah, orang-orang meludahi setumpuk daun lontar yang juga sudah sebagiannya dibakar, aku melihat orang-orang menghancurkan sebuah tempat sembahyang sederhana, aku melihat police line yang sudah berantakan, aku melihat orang-orang berteriak kalap...

Tanpa pikir panjang aku mengambil sepeda motor menuju rumah Godam.

Seseorang yang kutemui di gang depan rumah orang tua Godam memberitahuku bahwa sahabatku itu sekarang tinggal di rumah kecil di halaman belakang. Aku berjalan kaki karena lorong sempit menuju rumah kecil itu tak cukup untuk dilewati sepeda motor.

Begitu tiba di ujung lorong, aku melihat Godam keluar dari kamar mandi menggendong kedua anaknya yang berteriak-teriak gembira. Aku memutuskan untuk berhenti di sana, memperhatikannya dari jauh. Dia tak melihat kehadiranku. Aku lihat dia mengenakan pakaian kepada anak-anaknya, menyisir rambut anak-anaknya yang lalu duduk dengan tertib di sebuah balai-balai bambu di emper depan rumah itu. Lalu dia masuk ke sebuah bilik kecil. Sejurus kemudian dia keluar membawa dua piring berisi nasi untuk anak-anaknya. “Pakai garam saja, nak, ya?” ujarnya yang segera ditanggapi dengan anggukan senang kedua anak kecil itu.
Saat itu juga aku berbalik. Aku pulang saja. Dalam perjalanan pulang itu aku menangis. Aku terbayang sebuah kata indah: kesenian...


Bali, di sebuah Januari

Read More......

Sabtu, 19 Juli 2008

Hari Minggu Dilarang Sakit*

SAKIT, demikian seseorang menyebut Godam belum lama ini. Celakanya, yang mengatakan itu adalah orang yang sedang ingin diajaknya berbagi hati. Hati yang – entah apa sebabnya – sedang ndak beres-beres amat.

Yang mengatakan itu adalah seorang gadis cantik bernama Nita, yang hhh, sudah beberapa tahun membuat Godam tak enak tidur. Membuat Godam jatuh hati, jatuh cinta, serta saban malam menghayalkan sebuah kehidupan bahagia berdua, lalu punya anak-anak yang lucu-lucu dan seterusnya dan seterusnya. Pendek kata, yang mengatakan Godam sakit itu adalah seorang gadis yang benar-benar istimewa baginya.

Bahwa Godam dibilang sakit pertama-tama karena dia bertanya: apa maksud hidup ini? Dari pertanyaan itu Godam mendapat sebuah jawaban panjang berliku yang diakhiri: tabahlah!
Puih, hidup katanya adalah ketabahan.
“Tabah? Apa itu tabah?” tanya Godam.

“Karena hidup ini pinjaman,” jawab Nita.

“Maksudnya?”

“Kita dipinjemi hidup oleh yang membuat hidup itu sendiri. Jadi syukurlah kamu ndak dikasi hidup sebagai bekicot misalnya, tetapi jadi manusia. Tetapi, dikasi hidup sebagai manusia kita juga mesti menerima konsekwensinya. Sakit, lapar, kenyang, ngantuk, ndak punya uang, jatuh cinta, patah hati, kena gosip, kena rasa iri, sedih, senang, susah, dan seterusnya sampai kita mati. Di antara semua konsekwensi itu kita hanya bisa berusaha untuk mencari jalan keluar agar bisa merasa lebih nyaman. Hanya berusaha, berihtiar, selebihnya tidak. Kemudian di antara berusaha dan hasil berusaha itulah kita mesti mengalami lagi berbagai hal yang tak selalu menyenangkan. Tetapi kita tak boleh menyerah begitu saja. Tak boleh putus asa, prustasi dan lain sebagainya. Itulah yang disebut tabah. Soalnya kita toh tidak punya kemampuan apa-apa lagi alias tidak sempurna.”

“Jadi kita harus tabah?”

“Pake tanya lagi, kamu budek ya?”

“Lho, kok sewot? Apa sewot juga konsekwensi hidup?”

“Tentu saja.”

“Berarti tabah itu juga konsekwensi hidup dong. Jadi kalau kamu bilang maksud hidup ini adalah ketabahan, salah dong.”

“Ya memang. Lalu kamu minta jawaban gimana?”

“Ndak tahu.”

Nita, mahasiswi ekonomi semester dua itu lalu membanting kakinya. Mungkin kesal.

“Kamu sakit!” ketusnya.

Godam bergeming. Gundukan tanah yang dikelilingi berbagai bunga perdu di taman kota itu pun kian gelap. Senja yang hangat kini beranjak petang. Orang-orang yang tadi cukup ramai, kini tinggal beberapa saja. Dagang bakso, es kelapa muda, rujak dorong dan sate ayam yang berderet di pinggir sudut timur taman pun tampak sudah mulai berkemas pulang. Godam menengadah ke arah selatan. Lampu-lampu merkuri penerang jalan sudah mulai menyala. Segerombolan burung seriti hinggap dengan riuh cericitnya di pelepah pohon palem di pinggir kolam. Di sebelah palem itu, di tengah-tengah kolam dengan air mancur, tegak menjulang patung Bima dalam belitan naga. Otot-otot Sang Bima tampak menonjol penuh tenaga melawan seekor naga besar yang dengan beringas hendak menelan dirinya. Gagah sekali. Sang Bima dan Sang Naga tampak sama-sama gagah. “Adakah patung itu juga lambang sebuah ketabahan? Ah, memangnya patung bisa berpikir?” Godam menggerutu sendiri dalam hatinya.

***

BEBERAPA hari kemudian ayah Godam meninggal. Godam kembali bertanya kepada Nita yang hari itu berbaju merah muda. Godam bertanya, bagaimana ya orang kok bisa mati?

Nita yang hari itu berbaju merah muda merenung cukup lama sebelum menjawab. Lalu setengah putus asa dia berujar akhirnya: Bagaimana kita tahu soal kematian, sementara hidup saja ndak dapat dipahami sepenuhnya. Bahwa kematian, sudahlah, itu hanya soal istilah. Bahwa ketika mahluk hidup berhenti bernafas, jantungnya berhenti berdetak, paru-parunya berhenti bergerak, darahnya berhenti mengalir di dalam tubuh, otaknya berhenti bekerja, segala-galanya berhenti, saat itulah dia disebut mati. “Jadi kalau kamu tanya bagaimana orang kok bisa mati, ya karena jantungnya berhenti berdetak, paru-parunya berhenti mengibas, darahnya berhenti mengalir dan seterusnya. Bukankah begitu?”

“Maksudku, kok tidak bisa diperbaiki, gitu,” Godam masih penasaran.

“Maksudmu?”

“Misalnya saat orang jantungnya berhenti berdetak, kok ndak bisa diperbaiki biar berdetak lagi atau diganti dengan jantung lain misalnya.”

“Lho, kan sudah? Kan sudah banyak orang yang diganti jantungnya? Kan sudah banyak orang yang paru-parunya dibetulin? Kan sudah banyak orang yang ginjalnya rusak lantas diganti?”

“Ya. Ayahku juga sudah sempat dioperasi ususnya. Kata dokter, ususnya kena kanker ganas. Harus dipotong...,” Godam tak melanjutkan kata-katanya.

“Nah itulah salah satu contoh lagi bahwa organ tubuh kita yang rusak masih bisa diperbaiki.”

“Tapi kok tetap saja mati?”

“Badah, itulah kuasa yang memberi hidup ini. Hidup ini adalah pinjeman. Kalau yang memberi pinjeman mau mengambilnya lagi, ya, awak mau bilang apa lagi?”

“Yeee, kapan kita meminjamnya? Aku ndak merasa!” Godam sengit.

Nita yang hari itu berbaju merah muda berhenti bicara. Lama ditatapnya Godam. Lalu telapak tangannya terulur dan meraba jidat Godam. “Kamu sakit. Obatnya habis ya?” tanyanya. Godam bengong.

***

TAK lama berselang, Godam kembali bertemu Nita di ..., entah di manalah. Untuk hal ini, tempat tiba-tiba menjadi tak penting untuk bernama. Sebuah tempat, mungkin bisa saja kantor, dapur, kamar mandi, jalan raya, pasar, toko, pantai, lemari baju, rak buku, halaman rumah, perpustakaan, lapangan sepak bola, telepon umum..., biarlah tetap dengan namanya sendiri-sendiri. Tetapi untuk hal ini, biarlah nama-nama itu tak disebut saja, karena sesungguhnya – hal ini – memang tak mesti membutuhkan tempat tertentu, yang khusus, walau sementara ini mungkin oleh banyak orang memang dianggap penting setidaknya sebagai saksi bisu. Tetapi bagi Godam, dan juga Nita, biarlah mereka tidak seperti banyak orang itu, tidak ikut mempermasalahkan sebuah nama untuk sebuah tempat.

Godam berkata setengah berbisik, – sebuah kalimat pendek yang sebenarnya sudah disimpannya bahkan berabad-abad – menurut perasaannya. “Aku jatuh cinta padamu. Maukah kamu juga jatuh cinta padaku, Nita?”

Gadis itu kaget setengah mati. Lama memandang mata Godam.
“Please, kamu kenapa, Godam?” tanyanya.

“Memang kenapa?”

“Kok kamu semudah itu mengatakan jatuh cinta?”

“Soalnya aku memang jatuh cinta padamu. Soalnya aku memang ingin yang mudah-mudah saja. Soalnya, apapun yang kita telah coba lakukan dengan penuh pertimbangan, perhitungan, pemikiran, sublimasi, pengendapan dan lain sebagainya itu, toh pada hakekatnya akan berakhir dengan mudah. Seperti..., seperti..., ya seperti segala hal. Harga-harga misalnya, betapa mudah dia naik tanpa meminta persetujuan para pembeli. Seperti hukum itu misalnya, betapa mudah dia berubah perangai tergantung siapa yang memakainya atau untuk siapa dia dipakaikan. Seperti politik itu juga misalnya, betapa mudah dia berubah arah, berkompromi tanpa harus mengingat sejarah, tanpa harus mengingat berapa harga korban yang telah ditelan demi mempertahankan ideologi yang diberhalakan sebelumnya. Juga seperti kematian itu, mudah sekali terjadinya. Lihatlah di jalanan, orang dengan mudah mati hanya gara-gara tabrakan. Di mana-mana orang mati dengan mudah hanya dengan dibacok, ditembak, gantung diri, minum racun, sakit jantung, stroke, kanker, thypus, AIDS, kolera, demam berdarah, TBC, kencing manis ...”

“Kamu sakit ya? Aduh, ke dokter yuk!” Nita menarik tangan Godam.

Untuk mempermudah persoalan, Godam menurut.

Sepanjang perjalanan ke dokter itu pikiran Godam terus berputar oleh pertanyaan-pertanyaan. Kenapa di setiap ujung pembicaraan yang begitu serius dirinya selalu disebut sakit oleh Nita? Kenapa ketika berpikir dan kerkata-kata apa adanya sesuai dengan yang ada di lubuk hati, dirinya selalu disebut sakit? Kalau misalnya semua orang punya cara berpikir, berkata-kata dan bertingkah laku seperti dirinya, akankah semua orang itu juga disebut sakit? Apakah sakit itu sesungguhnya? Apakah dirinya itu jangan-jangan sebuah penyakit?

Di tempat dokter praktek Godam tertawa. Ternyata itu hari Minggu dan dokternya tutup. Jadi, hari minggu dilarang sakit!***


Suatu hari
* Judul terinspirasi dari cerpen “Dilarang Membunuh Di Hari Sabtu” karya Satmoko Budi Santoso.

Read More......

Aku Ingin Menepati Janji Sekali Saja

“YA, sesekali, nginaplah kamu di rumah,” kata Ayah di senja yang basah itu. Kami duduk di bale pemogbog di halaman bersama Ibu, adikku Dwi dan istrinya Kadek Lia serta temanku Ibed. Aku dan Ibed baru menghabiskan separuh cangkir kopi yang disuguhkan Lia. Kami sedang dalam tugas membuat beberapa foto Kebaktian Natal di Gereja Palasari yang tak begitu jauh dengan dusunku. Dan aku sengaja mengajak Ibed berangkat agak sore untuk bisa mampir dulu ke rumah. Juga sambil menunggu hujan reda.

Aku langsung paham maksud Ayah. Mungkin dia memang rindu padaku. Sudah dua tahun lebih aku tak pulang.

Aku bekerja sebagai redaktur pelaksana sebuah koran lokal. Walaupun aku bekerja di kota kabupaten berjarak tak lebih dari tujuh belas kilometer dari rumah, aku memang jarang pulang. Bahkan sekali lagi, terakhir ini aku sudah dua tahun lebih tak pulang. Selama ini aku tidur di mana-mana. Di rumah teman, di kantor, di losmen atau tidak tidur sama sekali. Sedang “tempat tinggal tetapku” adalah di ruang kerja redaksi yang sempit itu. Aku tak pernah risau mengurus diriku yang seorang diri ini. Sementara itu, telah belasan kali pula beberapa teman atau tetangga yang aku temui menyampaikan pesan Ayah agar aku pulang sesekali saja. Aku selalu mengatakan pada mereka untuk menyampaikan janjiku pada Ayah bahwa nanti kalau sudah sempat aku akan pulang.

Padahal dalam beberapa kali tugas peliputan, aku melewati dusunku. Bahkan pula, sekali pernah aku meliput kegiatan Pak Gubernur di dusunku sendiri. Waktu itu Pak Gubernur datang meresmikan pembangunan pusat penetasan ayam buras. Aku sempat bertemu Ayah. Tapi karena dia sibuk sebagai panitia dan aku sibuk wawancara serta membuat beberapa foto, kami tak sempat bertegur sapa. Di akhir kunjungan Pak Gubernur itu aku langsung berangkat ikut rombongan menuju lokasi kunjungan lainnya. Aku terburu-buru karena numpang di mobil humas protokol pemda.

“Ya, saya dan Ibed memang mau menginap. Besok pagi saya ingin masakan daun singkong bikinan Ibu,” aku menanggapi Ayah. Kami lalu ngobrol hal-hal lain. Ayah mengeluh soal jalan yang melintas di depan rumah kami. Katanya jalan itu sudah dua tahun direncanakan diaspal, tapi kenyataannya tidak. “Padahal kami di sini sudah melakukan persiapan maksimal. Banjar sudah terus bergotong royong mempersiapkannya. Enam warga secara sukarela sudah mengorbankan tanahnya untuk memperlebar bagian jalan yang sempit. Bahkan tanah kebun kita sendiri kena sepuluh are untuk menyambung jalan itu tembus ke dusun sebelah. Tapi heran, aspalnya ternyata tak datang-datang juga,” Ayah menarik nafas. Nampak sekali dia kecewa.

“Sabar sajalah. Nanti juga pasti diaspal. Lagi pula apa perlunya diaspal? Toh biar jalan tanah begini, orang-orang tetap bisa lewat,” aku menanggapi seperlunya.

“Ayah memang tak perlu aspal. Tapi warga banjar di sini sangat ingin jalan ini diaspal. Mereka sudah mengorbankan sebagian tanahnya dengan harapan bisa punya jalan beraspal,” Ayah masih ngotot. Aku sendiri sebenarnya cukup paham. Memang wajar jika warga banjar di sini ngotot soal aspal itu. Soalnya dari dulu janji-janjinya memang begitu. Bukan hanya dua tahun terakhir ini. Dari dulu sekali, sejak jaman Golkar. Para tokoh-tokoh Golkar dulu silih berganti datang ke sini membawa janji bahwa jalan ini akan diaspal. Lalu ketika reformasi, tokoh-tokoh PDI Perjuangan dan beberapa partai lainnya juga datang dengan janji yang sama. “Enam bulan lalu, Pak Wakil Bupati juga berjanji akan memperjuangkannya,” sambung Ayah.

“Yah, janganlah berharap lebih kepada seorang pejabat. Dia terlalu banyak urusan. Kasihan dia,” aku tertawa.

“Tetapi jalan ini memang layak mendapat perhatian. Jalan ini adalah satu-satunya akses menuju dusun dan desa sebelah yang menggerakkan perekonomian masyarakat di sini. Kasihan para tukang ojek, dagang sayur, saudagar coklat atau pembeli kelapa dan yang lainnya. Dengan kondisi jalan seperti ini, harga hasil kebun kita di sini juga jadi sangat murah,” timpal adikku Dwi tak mau kalah.

“Yah, sabarlah. Mudah-mudahan aspal segera datang. Ngomong-ngomong, kapan kalian akan punya anak?” aku mengalihkan obrolan.

Jam tujuh petang aku dan Ibed meninggalkan rumah menuju Gereja Palasari, gereja terbesar dan tertua di Kabupaten Jembrana – Bali barat di pinggir hutan sana. “Kamu jadi menginap, kan?” Ayah kembali bertanya. Aku meyakinkannya. Aku dan Ibed lalu menembus gerimis dengan sepeda motor.

Acara kebaktian di gereja ternyata baru akan dimulai jam sembilan malam. Di depan pintu gerbang gereja yang gelap tanpa lampu, aku dan Ibed diperiksa terlebih dahulu oleh enam orang petugas dari Sektor Kepolisian Melaya yang berjaga lengkap dengan alat pendeteksi logam. Tas kami dikeluarkan isinya. Kamera dan beberapa catatanku diperiksa dengan teliti. “Maaf, ini memang prosedur. Jangan tersinggung,” kata salah seorang polisi itu sambil menyalakan lampu senter. Dari suaranya itu aku bisa mengenali, ternyata dia temanku yang sekarang bertugas di bagian intel Polres. “Tak apa-apa. Periksa sajalah,” jawabku. Dan dia pun kaget begitu mengenali suaraku. Kami lalu sama-sama tertawa.

Yang agak lucu adalah ketika tas Ibed diperiksa. Meskipun seluruh isi tas tersebut sudah dikeluarkan, alat pendeteksi logam yang digerak-gerakkan polisi itu masih berbunyi keras. Sekujur badan Ibed pun diperiksa. Kami sampai sempat merasa tak enak. Sementara Ibed hanya cengar-cengir kebingungan. Untunglah kejadian itu tak berlangsung lama. Seorang polisi yang lain menyimpulkan bahwa resleting tas Ibed-lah yang membuat alat itu berbunyi. Kami lalu semua tertawa. Memang, resleting tas Ibed terbuat dari besi asli. Maklum, tas agak murahan.

Jam setengah sembilan malam itu, para jemaat gereja mulai berdatangan. Tua-muda mereka datang dengan sebagian besar berpakaian adat Bali lengkap seperti layaknya mau ke pura. Beberapa ibu dan remaja putri bahkan datang dengan rangkaian banten prani yang indah-indah sebagaimana odalan di pura. Aku dan Ibed mulai suntuk memotret. Aku membagi tugas, Ibed memotret dan mencatat kegiatan pemeriksaan para jemaat oleh petugas di pintu gerbang. Sementara aku dengan diantar oleh seorang penjaga gereja diajak masuk ke dalam gereja memotret seluruh rangkaian kebaktian malam itu.

Di pertengahan prosesi kebaktian, ada yang mencubit lenganku. Ternyata Lala. Aku terkesima. Betapa cantiknya gadis remaja ini. Tubuhnya yang tinggi semampai terbungkus gaun merah saga. Dia memang tak memakai pakaian adat Bali. “Aku ingin ngobrol banyak denganmu. Tunggu, ya,” bisiknya. Matanya menyorot tajam ke mataku. “Kamu terlambat datang,” kata-kataku tersekat di tenggorokan. Dan dia tentu tak mendengarnya karena telah menghilang masuk ke dalam deretan bangku jemaat lainnya. Aku melanjutkan memotret.

Di akhir rangkaian kebaktian ada pementasan Drama Natal. Aku keluar dan duduk di halaman gereja yang luas. Di langit mendung menggantung dengan beratnya. Aku memikirkan Lala. “Aku ingin ngobrol banyak denganmu. Tunggu, ya,” begitu bisiknya tadi.

Lala adalah salah satu bekas “muridku” di SMU Negeri 1 Denpasar. Tapi kampung halamannya memang di Palasari ini. Saat di kelas dua, tahun lalu, dia ketua teater sekolah dan aku pelatihnya. Sekarang dia sudah kelas tiga dan posisinya diganti oleh adik kelasnya. Selama ini hubungan kami memang sangat akrab. Dia tahu aku adalah laki-laki yang tak beruntung dalam cinta. Maksudku dalam rumah tangga. Karena aku bercerai dengan istriku sejak enam tahun yang lalu ketika usia pernikahan kami baru empat tahun berjalan. Sejak saat itu pula aku berpisah dengan kedua anakku yang masih kecil-kecil yang dibawa ibunya. Maka tanpa sepenuhnya sadar, di saat-saat latihan teater itu aku sering melamun membayangkan anak-anakku sudah besar dan ada di antara murid-murid yang aku latih. Mungkin saat melamun itu Lala sering memergoki aku. Maka dia datang dan menghiburku. “Anggaplah aku anakmu atau kekasihmu atau apa sajalah. Jangan melamun dan sedih. Nanti mati muda,” demikian dia selalu berkata sambil duduk di sebelahku seraya menyandarkan kepalanya di bahuku yang kerempeng. (Oh ya, perlu aku jelaskan, bahwa anak-anak didikku di teater sekolah itu semua menganggap aku ini temannya. Laki-perempuan bersikap sama akrabnya. Mereka biasa memelukku, bahkan yang laki-laki seenaknya saja memeluk bahuku seperti teman sebayanya. Sering kopi susu yang dibelikan untukku malah mereka yang menghabiskannya. Tak ada yang memperlakukanku sebagai seorang pelatih yang harus “dihormati” seperti mereka memperlakukan para guru kelasnya).

Lama-lama aku suka dengan cara Lala memperlakukanku seperti itu. Aku sering merasa membutuhkannya. Terutama saat aku sendirian di tempatku menginap di Denpasar selama masa latihan itu. Pernah ketika penyakit tiphusku kambuh tapi aku memaksakan diri untuk datang melatih mereka, Lala memberiku perhatian begitu besar. Dia mengurusku seperti entah mengurus ayahnya, atau kakaknya, atau mungkin kekasihnya. Hal-hal terkecil pun diurusnya, seperti misalnya mencukur daguku. Dan yang paling aku suka adalah ketika aku merasa sekujur badanku kepanasan, tanpa ragu-ragu dia meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipiku. “Tanganku dingin. Lebih dingin dari kompres air es. Tidurlah,” ujarnya sungguh-sungguh. Dan ajaib, saat itu aku memang merasa seperti dikompres air es. Sejuk sampai ke dalam hati. Aku benar-benar bisa tertidur di atas dua buah level yang disediakan anak-anak untuk aku istirahat. Tapi ya, sebatas itu. Aku sadar betul siapa diriku. Dan Lala juga tentu tahu betul bagaimana caranya menjaga hubungan kami.

Lala memang cantik. Tepatnya anggun. Agak tinggi, dengan rambut lurus panjang hingga sedikit di bawah bahu. Tidak terlalu putih, tetapi walaupun dia masih remaja, yang paling membawa daya tarik darinya adalah bentuk payudaranya yang sempurna. Aku tahu ini karena dalam latihan olah tubuh dia suka memakai kaos. Dan dia tahu kalau aku sering memperhatikannya. Saat-saat begitu, dia pun tertawa agak malu sambil meleletkan lidahnya.

Di luar sekolah ia ikut sebuah klub fashion cukup ternama di Denpasar. Maka kalau ke sekolah pun dia sering terpaksa membawa dua buah tas sekaligus. Satu tas untuk buku-buku pelajarannya. Satu tas (lebih besar dari yang satunya) untuk tempat perlengkapan fashionnya. Sehabis jam pelajaran dia tak pulang, tetapi langsung memimpin teman-temannya latihan teater dan sorenya langsung pula ke suatu tempat pergelaran mode.

“Aku ingin ngobrol banyak denganmu. Tunggu, ya,” begitu bisiknya tadi. Ya, memang sudah lama juga kami tak bertemu. Sekitar delapan bulanan. Karena kesibukanku di koran, aku terpaksa meninggalkan teater sekolah itu dan kini posisiku sudah diganti oleh sahabatku dari Sanglah, Frans Jatmiko. Lala, apa yang ingin kamu obrolkan denganku?

HP-ku berbunyi. “Segera kembali ke markas. Kita rapat mendadak. Ada perubahan untuk materi laporan utama kita. Cepat ya...!” Abang – pemimpin redaksi kami berkata dengan suara beratnya dari seberang sana. “Jam sebelas malam begini, Bang?” aku kaget. “Ya. Kami tinggal menunggumu!” sahutnya lagi lalu menutup hp-nya. “Kacau juga Si Abang. Ayo pulang,” aku mengajak Ibed sambil agak menggerutu.

Di tengah perjalanan pulang menuju kantor redaksi itu, hujan kembali turun agak deras. “Saya pusing dan kedinginan,” teriak Ibed yang memboncengku. “Sabarlah, sebentar lagi kita minum bir di kantor,” sahutku sekenanya. Kami melaju menembus hujan. Jalanan sepi sekali. Sesekali kilat menyala di atas kepala kami.

Memasuki perbatasan mau masuk kota, aku tersentak. “Bed, berhenti, Bed!” aku menepuk pundak Ibed. Ibed mengerem dengan keras.

“Ada apa?” tanyanya bingung.

“Aku lupa janjiku mau nginap di rumah.”

“Tapi kita kan mau rapat? Terus bagaimana?”

“Kamu sajalah yang rapat. Bilang sama Abang dan teman-teman, aku terlanjur berjanji dengan ayahku.”

“Lho, kendaraan kita kan cuma satu ini?” Ibed tambah bingung.

“Gampanglah. Kamu terus saja ke kantor. Aku akan menunggu bis di sini. Aku akan mencegat bis Jawa. Mereka pasti mau. Aku sudah pernah, kok,” aku meyakinkannya.

“Bagaimana kalau antar saya saja dulu ke kantor, nanti baru Bli balik lagi...,” usul Ibed.

“Tak cukup waktu. Percayalah. Kau berangkat saja sekarang. Tinggalkan saja aku di sini,” aku meyakinkannya lagi.

Ibed tahu kalau aku memang tak pernah mau mengalah darinya. Maka tanpa bicara lagi dia berangkat. Aku berdiri di bawah pohon di pinggir jalan itu menunggu bis. Hujan dan gelap menyatu seperti hendak menelanku.

Sepuluh batang rokok aku habiskan sudah. Sepuluh bis telah aku cegat tapi tak satu pun mau berhenti. Sepuluh truk juga, tapi sama saja. Mereka tetap melaju dengan kencangnya. Sementara hujan semakin deras dan pakaianku telah basah hingga ke dalam. Aku menggigil. Ingin juga aku menelpon teman-teman untuk menjemputku. Tentu mereka sudah selesai rapat dan juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak. Aku tak ingin merepotkan mereka yang tentu saja juga sangat lelah. Aku ingin naik bis, pulang dan menginap semalam saja di rumah. Aku sudah berjanji dengan Ayah. Aku ingin menepati janji sekali saja. Aku harus bertahan di sini menunggu bis yang mau mengangkutku.

Negara, 25 Desember 2002

Read More......

Surat yang Tak Pernah Dikirim Kartini

ANAK-anak sedang sehat semua. Yang paling besar, lelaki yang mirip kamu, telah terdaftar di taman kanak-kanak terbaik di kota tempat tinggalku sekarang. Uang pangkalnya dua ratus ribu rupiah termasuk biaya administrasinya. Terus, uang partisipasi pembangunan gedung sekolah enam ratus ribu, bisa dicicil tiga kali dalam tiga bulan. SPP-nya tiga puluh ribu. Biaya makan bersama di akhir minggu lima ribu. Uang untuk tiga stel seragam termasuk pakaian olah raga seratus ribu. Terakhir, ongkos transportasi antar-jemput dengan mobil sekolah enam puluh ribu sebulan. Itu sudah beres semua. Cuma saya tak sempat mengantarnya saat pendaftaran. Soalnya ada pertemuan penting di tempat kerja. Waktu itu pembantu juga sedang pulang kampung. Katanya ada upacara adat. Jadi, dia diantar Mami yang kebetulan datang. Maaf, ternyata dalam buku induk sekolahnya kemudian, nama kita sebagai orang tuanya tak tercantum. Yang tercantum justru Mami sebagai wali muridnya. He he he, anak kita seperti yatim piatu saja ya? Tapi tak apa. Yang penting toh urusan sekolahnya itu sekarang sudah beres.

Anak kita yang kedua, perempuan mungil yang ternyata lebih cantik dari saya itu, sekarang sekotak susu sudah tak cukup lagi untuk dua hari. Tapi dia anak yang mandiri. Tidak rewel jika saya tinggal berkerja di malam hari. Dia mengerti untuk tidur sendiri, bermain sendiri, menangis lalu diam sendiri. Kecuali mandi dia masih sama pembantu. Sama saya dia jarang mau. Ia telah fasih menirukan seluruh iklan di televisi. Bisa mengangkat telepon, bahkan membuka kulkas. Saya rasa dia cerdas seperti burung pipit.

Bagaimana keadaan kamu? Saya kangen. Kurangilah merokok. Jangan mabuk. Soalnya saya dengar sekarang kamu mulai bergabung lagi dengan gembel-gembel itu. Cobalah hentikan kebiasaan begadang. Kalau kamu sakit, saya sedih. Karena saya tahu kamu tak akan ke dokter. Kamu kan selalu kere. Jangankan ke dokter, untuk menelepon saya atau beli perangko saja kamu tak bisa menyisihkan. Makanya saya tak pernah mengharap surat kamu.

Ya, saya rindu. Terutama bila mau tidur. Badan terasa pegal linu semua, sampai ke pangkal paha. Tapi tak ada yang bisa memijat seperti kamu. Lelaki di sekitar saya brengsek semua. Maunya cuma di sekitar pusar. Saya mual.

Kalau sedang sedih, saya jadi benci kamu. Benci cara berpikir kamu, prinsip hidup kamu, kemiskinan kamu dan kepala batu kamu. Saya benci naluri dan bakat hidup tradisional kamu yang tak masuk akal itu. Hidup bermodal cinta, bekerja di dalam cinta. Tai kucing. Kalau badan kurang gizi, kalau anak-anak merengek minta es krim, kalau keluarga datang dan ingin mengajak jalan-jalan ke mall, kalau saudara-saudara datang dan ingin ditraktir di kentucky, tanpa uang bagaimana kita bisa aman untuk bercinta?

Saya benci kemelempeman kamu. Argumen-argumen kamu yang sudah keropos itu. Teman-teman sekolah saya yang dulu paling kere sekarang sudah berani nyicil mobil. Tetangga-tetangga yang paling ringsek ekonominya sudah berani ngamprah rumah BTN, pasang telepon, beli kulkas atau home theatre. Tapi kamu masih selalu pura-pura tak butuh. Pokoknya saya benci cara hidup kamu. Saya perlu hidup yang layak. Layak menikmati apa yang ada. Layak memenangkan setiap kesempatan yang ada. Layak masuk surga mumpung masih hidup. Hidup kan cuma sebentar dan sekali?

Kembali ke soal anak-anak, menurut pembantu, mereka juga kangen sama kamu. Yang laki-laki sering ngelindur menyebut-nyebut nama kamu. Kadangkala dia uring-uringan tak jelas juntrungannya. Bila saya bujuk, saya malah diusirnya, dipukulinya, bahkan tak mau diajak bicara. Yang perempuan jadi ikut-ikutan. Kalau sudah begini, saya jadi merasa terkucil. Saya jadi merasa sia-sia. Saya ingin marah.

Apakah saya keliru mengambil langkah? Lantas saya mesti bagaimana? Apakah saya harus kembali ke kamu? Kembali ke dalam kamar sunyi kamu yang bagi saya kelewat abstrak itu? Kembali ke dalam kemiskinan kamu yang telah melempar saya ke rentangan jarak yang teramat menyakitkan antara saya dan keluarga besar saya yang modern, terpandang dan terhormat? Sementara saya sendiri kok tiba-tiba tak yakin apakah falsafah-falsafah usang hidup kamu itu akan mampu membentengi saya dan anak-anak dari ejekan zaman yang melesat ini. Saya tak yakin jika anak-anak nanti berani menghadapi kenyataan bila kamu masih saja tak bergeming dan terus memihak kepada perasaan. Sekali lagi saya yakinkan kamu: perasaan itu tak penting lagi di zaman ini. Bahkan dalam komik anak-anak pun hal yang bernama perasaan itu sekarang tak lagi disentuh.

Belakangan ini, Mami, Tante dan Om sering datang ke tempat saya. Mereka menyinggung-nyinggung ketegasan di antara kita.
“Kamu harus segera menentukan langkah. Jangan terlalu rumit berpikir. Ingat, kamu masih muda. Sebelum terlambat, kamu bla bla bla...,” Mami menghujamkan petuah-petuahnya seperti hendak mengeluarkan seluruh isi kepala saya.

“Apa lagi yang kamu tunggu?” Tante mengisi giliran ceramahnya beberapa hari kemudian. “Tak ada yang bisa diharapkan dari dia. Heran. Kenapa sih dulu kamu dapat orang macam dia? Sayangi dong kecantikan kamu. Tante dengar ada boss yang tergila-gila sama kamu. Walaupun konon anak-anaknya sudah ada yang mahasiswa, kata orang dia masih gagah. Tunggu apa lagi? Kamu takut? Soal istrinya, itu kan urusannya sendiri. Yang penting jaminan masa depan kamu. Yang penting bla bla bla...”

“Atau sekalian cari lagi yang masih bujang. Kamu tak sulit menggaet anak orang terpandang. Itu para investor asing juga kan suatu kesempatan? O ya, sebenarnya ada teman tante yang ingin kenal sama kamu. Bagaimana? Pertemuan bisa tante yang mengaturnya. Duda tanpa anak. Usahanya bla bla bla....”

“Yang penting kamu pastikan dulu status kamu secepatnya,” Om menyambung lagi pembicaraan itu lewat telepon. “Kapan kamu mau cari pengacara? Om bisa mengantar. Om punya teman yang saudaranya pengacara. Pokoknya gampanglah.”

Ketika suatu saat saya jelaskan kepada mereka bahwa saya akan membicarakan dulu masalah ini dengan kamu sekalian mengajak anak-anak untuk bertemu ayahnya, Tante marah. “Kamu sinting apa? Kamu mau menemuinya lagi? Di mana? Tak bisa! Itu sama dengan merendahkan martabat keluarga. Dan itu tidak sehat. Paling-paling kamu akan dirayunya dengan puisi-puisi gombalnya. Jangan mengulur-ngulur waktu. Lagi pula apa peduli kamu untuk mempertemukan anak-anak dengan dia? Kalau dia ingin ketemu, biar dia datang sendiri. Kalau dia mau mengambil anak-anaknya, kasi saja. Itu kalau dia berani. Enak saja!”

Saya katakan pada mereka bahwa kamu tak punya alasan untuk takut menemui saya dan anak-anak. Saya katakan bahwa kamu bukan orang yang berjiwa kerdil. Kamu bukan jenis orang yang mengagung-agungkan harga diri. Saya katakan mungkin kamu sedang tidak punya uang untuk ongkos atau kamu mungkin sedang sakit. Soalnya sudah agak lama saya tak membaca ada tulisan-tulisan kamu di koran.

Mendengar penjelasan saya itu, Om, Tante dan Mami tambah marah. Tapi aneh, kemarahan mereka dikeluarkan lewat ketawa yang ganjil dan seperti mau memecahkan kepala saya. Untung saya belakangan ini (mungkin karena kebiasaan yang saya peroleh di tempat kerja) sudah biasa bebal terhadap cemoohan-cemoohan semacam itu.

Sekarang saya ingin kejelasan dari kamu. O, tidak. Tidak! Bukan begitu maksud saya. Bukan apa-apa. Tapi rindukah juga kamu sama saya? Bagaimana cara kamu mengatasi kesepian selama ini? Mengatasi perasaan kosong? Jangan bohong! Kamu pasti pernah merasa sepi dan butuh saya. Dan terus terang sekarang soal inilah yang menjadi kekhawatiran saya terhadap kamu. Saya khawatir kamu mencari jalan pintas. Saya tak rela. Pokoknya tak rela! Astaga, saya jadi bingung. Walaupun saya sendiri..., aduh, saya jadi malu! Masih dapatkah kamu memaafkan saya?

Saya juga sering teringat ibumu di desa sana. Bagaimana kabar Ibu? Pernahkah Ibu menanyakan saya? Kasihan. Tentu Ibu sedih karena tak bisa melihat perkembangan cucu-cucunya yang lucu. Tolong kalau kamu sempat ke desa menengok Ibu dan Bapak, sampaikan salam saya. Ah, saya jadi merasa bersalah. Tapi apakah saya terus menerus mesti salah? Jadi saya harus bagaimana lagi? Bagaimana dan terus bagaimana? Persetan! Saya jadi kembali marah sama kamu. Ingin sekali saya membunuh kamu. Biar kamu tak pernah ada di dunia ini. Kenapa sih dulu kita bertemu? Kenapa kamu mencintai saya? Kenapa saya dulu jatuh cinta sama kamu? Kenapa anak-anak itu harus lahir dari kita?

Benar, saya kadang-kadang ingin kamu mati saja. Biar anak-anak itu menjadi milik saya saja. Biar tak terlalu banyak mikir. Tapi itu tak boleh. Enak saja kamu mati duluan. Pokoknya kamu tak boleh mati dulu. Saya larang dulu kamu mati. Paling tidak sampai saya merasa siap untuk itu. Siap menerima kematian kamu.

Pernah saya berpikir untuk mengajak kamu pergi sejauh-jauhnya. Tinggal di suatu tempat asing bersama anak-anak kita. Tempat yang tidak diketahui oleh siapapun, juga oleh keluarga yang senantiasa bertindak hidup kita sepenuhnya ada dalam keputusannya. Saya membayangkan itu akan cukup memberi ketenteraman. Kamu akan aman bekerja sesuai panggilan hati kamu. Saya aman dari teror dan keterkucilan atas silsilah keluarga terpandang dan modern. Keluarga yang menyerahkan martabatnya pada realitas benda-benda. Anak-anak pasti akan damai dalam pertumbuhannya yang alamiah. Tapi saya curiga lagi pada diri sendiri, akankah saya dapat bertahan dari rongrongan keraguan yang terlanjur mengakar dalam latar hidup saya?

Saya juga teringat pada apa yang pernah kamu bilang, bahwa selama cakrawala masih bundar, selama kepercayaan terhadap hati nurani belum menyatu dengan napas, segala macam pelarian tak akan dapat menolong. Kita senantiasa akan terjebak dan menyerah dalam kepungan berbagai pendapat, berbagai kepentingan yang seringkali tak berhubungan sama sekali dengan kedaulatan hidup kita.

Ya, kalau dipikir-pikir, keraguan saya sendirilah yang saat ini membuat saya hanya berlaku sebagai obyek pemuasan bagi obsesi ketenteraman, gengsi, bahkan naluri keberkuasaan orang-orang yang merasa telah membuat diri saya ada. Maksudnya, dulu saya sebenarnya senang ketika kamu mengajak saya tinggal jauh di luar lingkungan keluarga kamu dan keluarga saya. Sekarang saya bisa menangkap, bahwa saat itu kamu telah memberikan saya isyarat yang tegas bahwa kamu dan saya adalah sebuah lembaga yang punya kedaulatan sendiri. Waktu itu saya sempat merasa berani bangga. Berani bangga atas kamu sebagai pilihan saya. Apapun nama keadaan kita waktu itu, jujur saja, saya merasa aman. Mungkin itu yang bernama bahagia.

Sekarang apakah saya bahagia? Aneh rasanya. Pada siapa pertanyaan ini saya pertanyakan? Dan apakah ada jawabannya?

Tapi baiklah, terus terang, saya kadang-kadang menikmati juga keadaan saat ini. Enak juga seperti burung yang bebas. Terbang dan hinggap di mana suka. Dan...., ah, persetan! Yang terpenting adalah anak-anak. Karena saya tak akan kembali kepada kamu. Inilah keputusan saya sekarang. Saya lalukan, jalani dan nikmati yang ada dan terjadi saat ini, akhirnya adalah untuk anak-anak. Saya akan melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Demi (kalau bisa) kebahagiaan anak-anak. Eh, apa? Salah lagi? Habis, saya tambah bingung.

Tapi sungguh. Saya harus bertahan. Dan kamu pun harus bertahan. Saya yakinkan: kamu tak boleh mati dulu. Anak-anak memerlukan kamu. Sebentar lagi mereka akan mulai menanyakan ayahnya pada saya. Ya, kepada saya, tidak lagi pada pembantu, pada Mami atau siapapun. Anak-anak akan menanyakan kamu pada saya.***

Pedukuhan Seni Tibu Bunter 2000

Read More......
 

Home | Blogging Tips | Blogspot HTML | Make Money | Payment | PTC Review

cerita pendek NANOQ DA KANSAS © Template Design by Herro | Publisher : Templatemu