Minggu, 27 Juli 2008

Dongeng

“CERITAKAN padaku sebuah dongeng. Apa saja,” demikian pesan pendek itu tertulis dalam layar handphone-ku. Di bagian atas pesan itu tertera nama seorang gadis remaja yang belum lama ini aku kenal di suatu tempat di kotaku.

Malam yang berhujan. Daun-daun riuh oleh tikaman air yang lebih meniru rupa jutaan lidi-lidi tajam yang dihempaskan begitu saja dari langit. Lensa kaca mataku tiba-tiba terasa perlu digosok. Stasiun Kereta Api Gubeng – Surabaya, di mana aku menunggu sebuah kereta berangkat ke Banyuwangi kemudian akan menyambungkan perjalananku ke Denpasar dengan bus milik perusahaan kereta itu juga, mendadak jadi sesuatu yang serba kelam, tua dan seperti telah lama sekali ditinggalkan.

Apa gerangan maksud gadis remaja itu tiba-tiba meminta aku mendongeng? Aku tak segera menanggapi pesan pendek itu. Dalam gemuruh hujan yang kian deras, aku mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan kenangan saat aku mengenalnya pertama kali.
***

ADA cahaya merah remang yang seperti tersipu di ruang seluas lima belas kali dua puluh meter itu. Ada denting gelas dan botol-botol softdrink bercampur bau tipis alkohol di antara alunan nomor-nomor jazz ringan yang merambat singgah ke setiap meja. Ada berbagai bau parfum yang juga merambati ruang bersama udara delapan belas derajat Celcius yang dihembuskan empat buah AC di langit-langit. Ada suara-suara tawa dan gumam yang tertahan dari hampir setiap meja. Kafe, ya kafe kecil itulah yang mempertemukan kami pertama kali.

Sesudahnya, sekali pernah kami bertemu di taman kota sore hari. Waktu itu aku mendapat kesempatan dari mantan istriku untuk mengajak dua anak-anak kami yang kini kelas empat dan kelas satu sekolah dasar untuk berjalan-jalan. Aku bertemu gadis remaja itu dengan seorang pemuda gondrong bersemir merah di dalam sebuah sedan yang diparkir di bawah pohon palem. Dia yang menyapa lebih dulu.

“Inikah anak-anakmu?” ujarnya seraya keluar dari sedan itu. “Sudah besar-besar ya. Kapan ke sini?” tanyanya lagi seraya mencoba menyalami kedua anakku yang terlihat bingung karena merasa tak mengenalnya.

“Sudah seminggu. Mari, kami mau jalan-jalan dulu,” potongku cepat. Aku melihat anak muda gondrong di dalam sedan itu agak terganggu oleh kehadiranku dan anak-anak.

“Hati-hati ya. da da...,” gadis remaja itu melambaikan tangan sembari masuk lagi ke dalam sedan.

Pernah pula aku melihatnya sekitar jam sembilan malam keluar dari dalam kafe tempat kami bertemu pertama kali. Kami tak sempat bertegur sapa. Aku yang baru datang dan memarkir motor, hanya sempat melihatnya tergesa masuk ke sebuah van warna gelap lalu melesat menembus malam.

Terakhir aku melihatnya masih dengan seragam sekolah di sebuah swalayan menjelang petang. Aku melihat gadis remaja itu di etalase sepatu. Dia tampak gembira sekali melihat-lihat pajangan sepatu sehingga tak sempat melihatku. Pundaknya dipeluk oleh seseorang, lelaki setengah baya yang saat itu masih berpakaian safari kantor – mungkin ayahnya. Dan aku tak ingin mengganggunya. Aku cepat-cepat berbelok ke lorong lain menuju pusat barang elektronik.
***

“CERITAKAN padaku sebuah dongeng. Apa saja,” demikian malam ini gadis remaja itu menulis pesan pendek ke handphone­-ku. Malam yang berhujan. Daun-daun riuh oleh tikaman air yang lebih meniru rupa jutaan lidi-lidi tajam yang dihempaskan begitu saja dari langit. Lensa kaca mataku tiba-tiba terasa perlu digosok. Stasiun Kereta Api Gubeng – Surabaya, di mana saat itu aku menunggu kereta berangkat ke Banyuwangi, mendadak jadi sesuatu yang serba kelam, tua dan seperti telah lama sekali ditinggalkan.

Masih juga aku belum menanggapi pesan pendek itu. Setelah merangkai kembali kepingan-kepingan kenangan perkenalan dan perjumpaan kami yang beberapa kali itu, aku masih bertanya-tanya sendiri, penasaran. Apa maksud gadis remaja itu tiba-tiba meminta aku mendongeng? Adakah ia pikir aku selama ini tukang dongeng? Ataukah dia sedang menyindir bahwa apa-apa yang aku kerjakan sebagai wartawan selama ini hanya dongeng? Aku jadi gelisah. Kalau demikian, berarti aku harus bertemu dengannya, menjelaskan bahwa semua yang menjadi berita-berita di koranku itu fakta adanya. Sama sekali bukan dongeng. Bahwa, aku bukan pendongeng.

Ah, tiba-tiba dia memintaku mendongeng. Jangan-jangan dia serius dan memang ingin sekali didongengi. Tapi kenapa dia menyuruhku dan bukan orang lain? O, mungkin dia tidak punya orang lain. Setidak-tidaknya, mungkin dia tak punya kakak atau ibu atau nenek yang bisa mendongeng untuk dirinya. Baiklah, aku siapkan sebuah dongeng. Di dalam kapal saat suatu kali menyeberang di selat Bali, aku pernah membeli sebuah buku dongeng. Aku masih ingat beberapa dongeng di dalamnya dan bisa saja aku ceritakan pada gadis remaja itu sekarang.

Tapi tunggu! Jangan-jangan dia benar-benar sedang menyindirku. Dengan kata yang lebih kasar, sesungguhnya dia berkata bahwa apa yang kukerjakan selama ini yang kemudian kusebut sebagai berita-berita, sebagai laporan utama, opini dan sebagainya itu baginya tidak lebih sebagai sebuah dongeng pengantar tidur. Sialan, aku tersinggung. Aku bingung.

“Tapi, memang adakah yang bukan dongeng di dunia ini? Apakah yang sesungguhnya bukan dongeng?” Seorang perempuan tua di sebelahku – yang sama-sama menunggu kereta berangkat – yang dengan terpaksa aku tanyai dongeng apa yang bagus untuk seorang gadis remaja, balik bertanya.

“Tentu saja banyak, Bu,” jawabku hormat.

“Apa misalnya?”

“Hm, banyak. Banyak sekali. Misalnya...,” entah kenapa aku tiba-tiba lambat sekali berpikir.

“Ayo, apa yang bukan dongeng? Demokrasikah? Pemerintahkah? Ataukah barangkali rakyat macam kita yang bukan dongeng?”

“Astaga, Bu! Saya, saya hanya....”

“Sebentar! Saya juga mau tanya kepada sampean, apa yang bukan dongeng?” Perempuan tua itu bertambah ngotot.

Aku mulai merasa njelimet. Hanya gara-gara bertanya dongeng apa yang bagus untuk seorang gadis remaja, seorang perempuan tua bahkan tiba-tiba menjadi begitu marah. Maka aku diam. Aku biarkan entah apa lagi yang dikatakan perempuan tua di sebelahku itu.

Aku jadi teringat berbagai berita buruk yang aku tulis dan juga ditulis teman-temanku sesama wartawan di berbagai media massa. Ada yang menulis berbagai bencana, soal kemiskinan, ketakadilan, soal korupsi di berbagai instansi, manipulasi besar-besaran di berbagai bank dan di berbagai sumber keuangan milik negara. Adakah berita-berita mereka itu telah bisa memperbaiki atau setidaknya merubah keadaan menjadi lebih baik? Ada juga yang menulis soal berbagai pembunuhan di berbagai tempat. Apa pula maksudnya? Adakah laporan-laporan mereka itu untuk membuat orang-orang menjadi ngeri dan menyadari bahwa pembantaian itu adalah sesuatu yang keji dan tak manusiawi? Tetapi kenapa setiap keesokan harinya masih saja ada pembunuhan dan pembantaian-pembantaian baru yang kembali ditulis dan diberitakan? Bahkan, kenapa dalam sebuah bangsa terus saja ada pembantaian satu sama lain yang tak kunjung henti? Kenapa sebuah bangsa bisa saling bantai dan saling melenyapkan satu sama lain?
Aku makin jelimet. Kalau begini terus aku bisa mampus sendiri di tengah-tengah tertawaan orang yang melihat aku sebagai binatang aneh dengan sesuatu yang keluar menjulur-julur dari kepalaku.

Maka, baiklah adik, aku dongengkan saja untukmu sesuatu yang paling sederhana: cinta!

Dan kereta api berangkat. Maka dalam kereta yang bergemuruh merangkaki malam itu aku pun mendongengkan sebuah cinta. Aku terus mendongeng, sampai gadis remaja itu benar-benar terlelap di sebuah kamar, entah di mana.***


Surabaya – Bali, suatu malam

Read More......

Ke Setiap Rumah Lelaki yang Menjadi Ayah

“PERNAHKAH ayah berpikir, bahwa cukup pantaskah ayah disebut seorang pahlawan bagi kami?” tiba-tiba lima anak saya bertanya serempak. Pertanyaan itu mereka utarakan ketika saya sedang bersantai menikmati cuaca sore yang cerah di kebun belakang rumah kami yang sederhana, di atas kursi goyang antik oleh-oleh salah satu menantu, di tengah hamparan rumput kasur nan hijau, di antara berbagai tanaman perdu tertata rapi, di sudut barat laut kolam kecil buatan seorang tukang taman paling ternama di kota kami.

Saya terkesima. Takjub memandang mulut-mulut yang menempel indah di wajah anak-anak saya dari yang paling besar hingga yang paling bontot itu. Saya terkesima oleh kekompakan mereka. Tumben mereka menghadap saya sekompak itu. Sebelumnya tak pernah. Sebelumnya, entahlah.

Saya pandangi satu persatu tiga sosok gagah-gagah dan dua sosok cantik-cantik itu. Inilah mereka. Lima generasi penerus saya yang gagah-gagah dan cantik-cantik. Lima sosok buah cinta saya dengan istri, yang kini semuanya telah menjadi manusia dengan pekerjaan serta status masing-masing, yang bahkan telah memberi saya sejumlah cucu yang lucu-lucu dan bengal-bengal. Inilah mereka, lima anak-anak saya yang sekarang tumben-tumbennya datang berkumpul menghadap saya dan bertanya: “Pernahkah ayah berpikir, bahwa cukup pantaskah ayah disebut pahlawan bagi kami?” Edan! Mereka mendesak saya. Memojokkan saya ke suatu sudut yang paling samar dalam tempurung kepala saya. Menekan tubuh saya ke dalam ruang tak berdimensi di dada saya. Sialan! Saya menyipitkan mata, mencoba berpikir.

Selama ini, apa yang telah saya perbuat dan berikan kepada mereka? Saya mencintai istri saya, lalu mereka lahir satu persatu. Lalu saya dan istri saya merawatnya, memeliharanya sebagaimana orang lain melakukannya. Saya dan istri membesarkan mereka dengan segala sesuatu yang lumrah, sederhana, sesuatu yang mengalir sesuai dengan irama kehidupan yang kami temui, yang kami jalani.

Saya dan istri telah membesarkan anak-anak dalam sebuah keluarga yang menurut saya wajar-wajar saja dan sebagaimana mestinya. Kalau mereka saya anggap bersalah, saya menegurnya. Kalau mereka saya anggap nakal, saya memarahinya. Memukul pantatnya atau menjewer telinganya, sesekali menstrapnya berdiri menghadap tembok beberapa puluh menit. Saya memuji atau memberi hadiah untuk sesuatu yang membuat mereka pantas menerimanya. Mengajak mereka bercanda, berdiskusi, berbeda pendapat, atau menyepakati suatu hal atau mengajak mereka melupakan sama sekali hal-hal yang patut dilupakan. Saya mengajak mereka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang pantas mereka kerjakan.

Sumpah! Saya sungguh merasa telah memberikan semuanya kepada mereka, kepada anak-anak saya itu. Mengajak mereka menjalani dan menikmati kehidupan ini dari tetesan keringat saya yang paling perih sampai ke dalam kejayaan yang paling mashyur dalam sejarah hidup saya. Bahkan darah dan sumsum tulang saya telah saya berikan. Napas saya. Jiwa saya. Cinta saya. Kasih sayang saya. Nurani saya. Ketakberdayaan saya. Kegilaan saya. Apa-apa saya.

Dan sekarang, tiba-tiba mereka datang serempak dengan mulut yang kompak bertanya kepada saya: “Pernahkah ayah berpikir, bahwa cukup pantaskah ayah disebut seorang pahlawan bagi kami?”

Sialan! Betapa manis-manisnya mereka saat mengucapkan kata-kata itu. Betapa sederhananya mimik mereka saat memberondongkan pertanyaan itu tepat ke jidat saya. Dan alangkah tiba-tiba remangnya cakrawala di atas kepala saya. Saya tak mengerti, kenapa tiba-tiba saya merasa terdesak di sebuah sudut yang paling samar dalam pengalaman saya. Kenapa tiba-tiba saya merasa tertekan pada suatu wilayah tanpa dimensi.

Mata saya berkunang-kunang. Mungkin agak capek. Dan mereka, kelima anak-anak saya itu, belum juga bergerak sedikit pun dari depan saya. Mereka masih menunggu. Malah kelihatan semakin berhasrat akan jawaban dari mulut saya. Dalam kesamaran pandang, saya lihat mereka tak berkedip menatap saya. Bahkan napas-napas mereka terasa menyentuh pipi dan tembus ke tengkuk saya. Saya pejamkan mata. Kursi goyang terasa bergerak sendiri. Mengayun-ayun tubuh dan perasaan saya.

Entah berapa lama, saya terus bisu. Lalu saya merasakan tangan-tangan mereka, tangan-tangan anak-anak saya itu mulai tak sabar. Mereka mulai mengguncang-guncang tubuh saya. Dan mulut-mulut mereka masih mengulang pertanyaan yang sama: “Pernahkah ayah berpikir, bahwa cukup pantaskah ayah disebut seorang pahlawan bagi kami?”

Saya rapatkan kelopak mata. Sampai kemudian perlahan-lahan saya merasakan tangan-tangan itu mulai menggerayangi tubuh saya. Mula-mula mereka mencongkel-congkel kelopak mata saya dengan telunjuk, lalu mereka mendongkel mulut saya dengan seluruh jari-jari mereka. Kemudian tangan-tangan itu berpindah ke dada saya. Tangan-tangan yang kekar dan tangan-tangan yang halus itu mulai menarik-narik kulit perut dan juga tulang iga saya, mengangakan seluruh rongga dada saya. Mereka mengorek-ngorek terus di sana. Mencari dan terus mencari dengan semakin penasaran. Kian lama tangan-tangan itu kian tak terkendali. Dan dengus napas mereka pun berubah menjadi lenguh mahluk yang tak saya kenal sama sekali. Tapi saya tetap bisu. Saya tetap...

Barangkali wajah, dada, perut, kepala dan seluruh tubuh saya telah porak poranda oleh mereka ketika saya membiarkan diri saya melayang perlahan-lahan dari kursi goyang itu. Saya melayang meninggalkan mereka. Meninggalkan tanaman perdu, rumput hijau, kolam kecil..., dan dengan diam-diam saya melayang terbang menuju ke setiap rumah lelaki yang menjadi ayah.***


Bali suatu senja.
Untuk almarhum Wayan Mandra, ayahku, yang telah mengajarkan kehidupan dan cinta yang sederhana kepada kami anak-anaknya

Read More......

Sebuah Negeri, Jangan-jangan Tak Sempat Mendengar

  • “Namaku Saraswati. Kenapa bukan Saraswita?” tanya gadis remaja itu kepada kekasihnya. Sang kekasih bergeming. Ia berada jauh di sebuah negeri yang tak pernah dewasa. Negeri dengan sebuah kebebasan yang tak pernah dipahami. Negeri dengan sopan-santun yang tak pernah lebih dari sebuah basa-basi. Sebuah negeri yang selalu riuh sendiri dalam peta dengan bagian-bagian tertentu yang selalu terbakar sendiri.
Di televisi, para pembesar, politikus, budayawan, ahli hukum, ekonom, agamawan, sepanjang hari itu, minggu itu, bulan itu, memenuhi jam-jam siaran dengan berbagai argumen tentang masa depan sebuah bangsa. Mereka berdebat sepanjang waktu mengenai kebobrokan pemerintahan, kekuasaan, hukum, politik, perekonomian, moral dan seterusnya. Mereka berpendapat soal-soal rakyat dan generasi muda yang harus bangkit melawan, melawan dan melawan segala ketimpangan, ketidakadilan, korupsi, kolusi, dan seterusnya. Di sanalah dia, sang kekasih gadis remaja itu berada. Tetapi bukan sebagai siapa-siapa, bukan sebagai salah satu yang senantiasa berdebat, berargumen atau berpendapat itu. Tetapi dia hanyalah semacam gumpalan tanah liat yang ditaruh di tengah-tengah meja tempat berdebat yang terus disorot kamera televisi itu.

“Beginilah seharusnya demokrasi...,” seorang ahli tata negara dengan sederet gelar di depan dan belakang namanya menjulurkan tangan. Gumpalan tanah liat itu diremas-remasnya membentuk lempengan lalu didadarkan di atas sebuah nampan plastik.

“Ya ya, tetapi tentu saja tak sesederhana itu...,” serobot seorang budayawan botak berkacamata tebal seraya meremas-remas kembali lempengan tanah liat itu menjadi sebuah bangunan menyerupai benteng. Di sekeliling temboknya terpajang tiang-tiang dengan bendera berkibaran di antara deretan senapan mesin dan tank-tank yang siap memuntahkan peluru.

“Nanti dulu. Bila politik tak mampu menunjukkan itikad baiknya...,” sergah seorang agamawan lantas meremas-remas lagi gumpalan tanah liat itu menjadi bulat telur. Ajaib, begitu gumpalan bulat telur itu diletakkan, tiba-tiba saja gumpalan itu retak dan mengeluarkan semacam asap. Asap itu pun lalu mengalir keluar melalui udara di lubang-lubang ventilasi, lubang-lubang pengatur suhu ruangan, lubang-lubang pembuangan, memenuhi kota. Lalu jalanan, lorong-lorong kumuh, terminal, ribuan penduduk miskin membanting-banting dirinya. “Lari! Ada gas air mata!” teriak mereka.

Sementara itu di meja perdebatan, para pembesar, politikus, ahli hukum, budayawan, agamawan serta para ekonom tak henti-hentinya bersalaman dan saling rangkul. Bersalaman lagi, saling rangkul lagi, begitu saja mereka. Tak sebaris kalimat pun pernah selesai mereka ucapkan. Sesekali kamera televisi menangkap jemari mereka yang saling remas pada bagian-bagian sensitif tubuh mereka. Bahkan ketika lenguhan nafas itu berujung, tetesan air liur mereka begitu jelas terdengar dari sepasang speaker televisi dengan tata suara surround itu. Suara tetesan air liur muncul dari mana-mana.
  • “Namaku Saraswati. Kenapa bukan Saraswita atau yang lain? Kenapa kamu adalah dirimu dan bukan orang lain misalnya?” gadis remaja itu kembali bertanya. Sebuah negeri, tetap dalam keriuhannya. Sebuah negeri, jangan-jangan tak pernah peduli ada seseorang yang bertanya begitu. Sebuah negeri, jangan-jangan tak pernah tahu ada seseorang yang bernama Saraswati. Dan, apa sih pentingnya sebuah pertanyaan “siapa aku” bagi kelangsungan sebuah negeri yang berpenduduk dua ratus juta lebih misalnya?

Mungkinkah gadis remaja itu telah sedang mengadakan sekaligus meniadakan dirinya sendiri? Maka aku teringat sebuah novel berjudul “Dunia Shopie”. Sebuah novel filsafat yang dimulai dengan sebuah pertanyaan: Siapakah kamu? Aku teringat berbagai ulasan filsafat dan bahkan agama dengan pertanyaan yang sama. Aku teringat, pertanyaan itu tak pernah mendapatkan jawaban yang berujung. Aku teringat, pertanyaan itu telah pernah dilontarkan Arjuna kepada Sri Kresna dalam sebuah ephos ribuan tahun lampau di tengah kecamuk perang di Kurusetra. Aku teringat, diriku yang tak akan pernah tiba pada sebuah jawaban pun untuk pertanyaan yang sederhana itu.

Di layar televisi gambar berubah. Hutan-hutan sebagian dibakar, sebagiannya lagi menurut pemerintah konon dijarah orang-orang tak dikenal. Lucu, rakyat sendiri kok konon tak dikenal. Asap kelabu, gemeretak ranting dan bunga api. Di sebuah desa, tampak ayah dan ibuku dan para tetangga menyanyikan lagu-lagu kemakmuran negeri sembari mencangkuli dengan geram rekahan-rekahan tanah yang terus mengeras akibat pupuk kimia.

Beberapa minggu kemudian, sawah-sawah dan ladang-ladang hijau ranum. Sepanjang pematang, sepanjang aliran sungai, beterbangan pendaran cahaya hari esok yang gembira. “Bukan lautan, hanya kolam susu...,” adik-adikku yang masih kecil-kecil itu berjoget lagu dangdut yang ditirunya dari sobekan-sobekan laporan pembangunan yang jatuh dari mobil para penyuluh pertanian. Sayang sekali, belum genap bait-bait itu dilagukan, dalam gambar televisi tampak adik-adikku telah menjadi mayat gara-gara berbagai wabah penyakit kelas dunia ketiga semacam demam berdarah, muntaber, malaria atau keracunan makanan kedaluwarsa, atau keracunan makanan dari daging-daging hewan yang belakangan baru diketahui telah tercemar kuman penyakit yang aneh-aneh sekali namanya. Ayah ibuku dan para tetangga menjerit menerima kenyataan harga gabahnya tak mampu menebus hutang pupuk di koperasi unit desa. Pasar dan dapur para pejabat, pasar dan dapur para politikus, pasar dan dapur para ekonom, pasar dan dapur para budayawan, pasar dan dapur para agamawan, pasar dan dapur para lembaga swadaya masyarakat tertimbun beras impor dari negara sebelah.

“Turunkan bupati!” teriak ribuan guru sekolah sembari dengan gembira bolos mengajar. Maka para siswa yang ditinggalkannya beramai-ramai melepas baju seragam lalu masuk televisi menjadi bintang sinema elektronik, penari latar para penyanyi, dan ada juga yang jadi pelawak. Anehnya, direktur jendral kebudayaan masih saja mengeluh kesulitan mencari aktor dan aktris, kesulitan mencari duta-duta kebudayaan untuk dikirim ke luar negeri. Masyarakat akhirnya terpaksa membeli film-film Hollywood, Mandarin dan India bajakan di sepanjang trotoar, kaki lima, mall, hanya untuk sekedar memenuhi hasrat menonton tontonan bermutu.

“Turunkan presiden!” sahut para mahasiswa sembari membakar bendera bangsa di sebuah perempatan dekat hotel berbintang tempat para turis asing melihat-lihat keindahan sebuah negeri di garis khatulistiwa.

Gambar televisi berubah lagi. Para mahasiswa ditangkapi polisi. Ada yang berdarah segala. Ada beberapa yang (lagi-lagi konon) hilang. Ada yang ditemukan beberapa tahun kemudian setelah berganti nama menjadi: yang terhormat wakil rakyat.
  • “Namaku Saraswati. Kenapa bukan Saraswita?” tanya gadis remaja itu kepada kekasihnya. Sang kekasih bergeming. Ia berada jauh di sebuah negeri yang tak pernah dewasa. Negeri dengan sebuah kebebasan yang tak pernah dipahami. Negeri dengan sopan-santun yang tak pernah lebih dari sebuah basa-basi. Sebuah negeri yang selalu riuh sendiri dalam peta dengan bagian-bagian tertentu yang selalu terbakar sendiri.
Aku mulai menimang-nimang pikiran sendiri. Siapakah aku? Siapakah aku ketika misalnya ditanyai seperti itu oleh seseorang? Siapakah aku kecuali sesuatu yang kemudian disebut anak dan diberi nama sebagai sekedar tanda oleh kedua orang tuaku, disebut cucu oleh kakek dan nenekku, disebut keponakan oleh paman dan bibiku. Selanjutnya namaku dimasukkan dalam kartu keluarga dan dicarikan kartu tanda penduduk. Oi, aku jadi penduduk sebuah kampung, sebuah desa, sebuah kecamatan, sebuah kabupaten, sebuah provinsi, sebuah negeri. Tetapi siapakah aku kecuali sesuatu yang berangkat tumbuh dengan segala sesuatu yang juga tumbuh bergerak di sekitarku.

Hari ini, siapakah aku kecuali sesuatu yang bertanya siapakah aku. Sesuatu yang setiap saat bisa saja ditanyai oleh kekasihnya: siapakah aku?

“Namaku Saraswati. Kenapa bukan Saraswita atau yang lainnya?” Gadis remaja itu terus bertanya kepada kekasihnya. Sebuah negeri jangan-jangan tak sempat mendengar pertanyaan itu. Sebuah negeri terus bergerak melahirkan sesuatu yang juga terus bertanya siapakah aku?


Dusun Moding - Jembrana, suatu hari

Read More......
 

Home | Blogging Tips | Blogspot HTML | Make Money | Payment | PTC Review

cerita pendek NANOQ DA KANSAS © Template Design by Herro | Publisher : Templatemu