Rabu, 06 Agustus 2008

Dari Rumah Leak Di Sanur Itu

“AKU pulang,” ujarnya senja itu. Dia, Godam sahabatku, datang ke rumah kontrakanku di pinggir kota di atas tebing kali itu. Rambut gondrongnya terlihat lebih rapi dan mengkilat, seperti biasa dibiarkannya terurai melewati pundak. Kemejanya masih berwarna hitam. Celananya masih jeans. Sepatunya masih chiko. Dan, dua cincin perak berukir naga di telunjuk, tiga di jari tengah serta dua di jari manisnya masih juga bertengger.
Dia berdiri saja di halaman. Aku menolehnya sepintas lalu saling tertawa seperti yang biasa kami lakukan setiap bertemu.
“Kenapa pulang?”
“Ada teman membeli seratus lukisanku di Bandung. Hanya untuk hiasan di dinding hotelnya. Hanya hiasan,” jawabnya datar.
“He he he. Artinya kamu sedang banyak uang.”
“Ya, lumayan. Aku mau bikin studio di Ubud. Aku juga boyong anak-anak dan istriku. Besok kami sudah ke Ubud.”
“Baguslah. Nanti aku bisa mampir ke situ.”
Kami lalu ngobrol hal-hal lain.

ITU pertemuan kami terakhir tiga tahun yang lalu. Selanjutnya kami tak saling mengontak lagi. Kabar yang kudengar tentangnya pun tak pernah jelas. Ada teman mengatakan dia pindah ke Sanur. Ada yang bilang dia kost di Denpasar. Ada lagi yang bilang ke Surabaya. Ada yang membawa kabar dia sudah bercerai dengan istrinya. Terakhir, seorang teman lagi mengatakan dia kini menekuni semacam ajaran spiritual tertentu. “Dia sekarang rajin semadhi dan menekuni lontar kuno,” demikian teman itu.

Untuk kabar yang terakhir ini pun, aku masih tak menanggapinya serius. Aku tahu betul watak dan perilaku Godam yang pembosan. Sejak kami masih di bangku SD dia juga sudah sering berperilaku aneh-aneh agak mendekati mistik. Saat itu dia sering mengaku bisa melihat mahluk halus yang di daerah kami disebut wong samar, terutama bila kami sedang bermain di kali, di bukit-bukit atau di kebun orang mencari ranting bambu untuk bedil-bedilan. Aku sendiri saat itu tak pernah risau atau merasa takut dengan omongan atau perilakunya itu. Soalnya aku tak pernah percaya.

SIANG itu, seorang teman yang punya kios koran datang ke rumahku. Aku sedang di studio mengerjakan sebuah logo pesanan suatu perusahaan yang baru berdiri di kota kami. “Bacalah! Macam beginilah sebagian besar koran-koran lokal kita sekarang. Klenik dan mistik bisa menjadi lebih penting dan mendapat porsi lebih besar daripada persoalan-persoalan mendasar di masyarakat. Pembodohan!” katanya bersungut-sungut seraya melemparkan sebuah koran ke mejaku.

“Tak apa toh? Bisa jadi memang itu yang lebih disenangi pembaca dan membuat korannya laris,” aku menanggapinya tanpa menyentuh koran itu. Aku tetap suntuk pada komputerku.
“Tapi yang ini beritanya sudah keterlaluan. Wartawannya juga tampak seperti memaksa menggiring pembaca untuk memfonis seseorang,” teman itu masih berkata keras.
“Memang ada apa?”
“Bacalah sendiri!”
Aku menoleh juga ke koran itu. Aku lihat sebuah headline yang ditulis dengan tinta merah. “Ditemukan Rumah Leak di Sanur” – demikian bunyinya.

“He he he. Menarik juga. Aku baca nanti saja, ya?”

“Kemarin siang di TV juga ada berita ini,” sambungnya lagi.

“TV yang mana?”

Dia menyebut sebuah stasiun televisi lokal di daerah kami.
“O ya?”

“Leak yang menempati rumah itu konon bernama Godam,” ujarnya lagi lebih semangat.
“Heh?”

“Sudahlah. Baca sajalah beritanya nanti di situ. Aku mau pulang,” teman itu mendadak pulang. Mungkin dia jengkel melihat aku tak bereaksi atas kabar yang dibawanya. Padahal, ketika dia menyebut nama itu tadi aku memang agak kaget.

Tak lama berselang, datang lagi seseorang. Dia langsung masuk ke studio, berdiri agak jauh di belakangku. Aku tak memperhatikan, pun menyapanya. Teman-teman memang sudah biasa datang seperti itu.

“Aku pulang lagi,” suara itu seperti menyengatku.
Spontan aku menoleh. Nyaris aku tak mengenalinya. Godam! Ya, Godam! Tapi sekarang dia begitu kurus dan kumal. Rambutnya yang panjang terlihat lengket karena jarang dikeramas. Dia hanya mengenakan kaos oblong putih yang sudah robek lengan kanannya dan mengenakan kamben dari kain hitam kasar yang juga sudah teramat kumal. Aku terpaku di tempat dudukku tanpa bisa berkata sepatah pun. Mungkin saat itu aku juga lupa berkedip.

“He he heh. Aku pulang,” ujarnya lagi disertai suara tawa panjang agak berat. Tiba-tiba aku merinding. Beberapa saat aku bingung dan masih tak mampu mengucapkan sepatah kata untuk menyapanya.

“Aku minta kopi,” lanjutnya masih diiringi ketawa ganjil sambil mengambil rokokku di sebelah monitor komputerku. Tangannya tampak gemetar dengan urat-urat dan tulang yang menonjol.

“Ya. Ya. Duduklah,” aku gugup.


Sambil membuatkannya kopi, dengan tergesa-gesa aku baca berita headline koran tadi yang diam-diam aku bawa ke dapur.


  • Sebuah rumah leak ditemukan di Sanur. Dalam rumah yang terletak di tanah kosong dekat pembuangan sampah tersebut warga menemukan berbagai benda sakral yang biasa dipergunakan untuk ritual mistik. Di langit-langitnya terpasang kain kafan dua kali dua meter yang penuh rajahan dan terdapat tanda tangan berbunyi Godam. Setumpuk lontar kuno juga ditemukan dengan rajah huruf Bali Kuno dan gambar-gambar mistik. Sementara di seluruh bagian dinding ditemukan berbagai potongan bambu yang dililit dan digantung benang tiga warna. Seluruh benda-benda tersebut tertata sedemikian rupa, sehingga sangat meyakinkan sebagai tempat pemujaan setan atau tempat memperdalam sekaligus mempraktekkan ilmu pangleakan.
  • Aparat kepolisian yang turut menggeledah, saat ini sudah menyegel rumah tersebut dan memasang police line serta berjanji akan mengusut pelakunya yang diduga bernama Godam. Sementara itu, pemilik asli tanah sekaligus rumah kosong tersebut, mengatakan tak tahu menahu jika rumahnya dipakai sebagai sarang leak. Dia hanya mengaku pernah melihat seorang lelaki kurus berambut panjang sering keluar-masuk rumah kosong yang dulunya dipakai sebagai bedeng penampungan buruh bangunan saat dia membangun losmen. Saat itu dia pikir bahwa lelaki tersebut mungkin orang stress atau orang gila.

  • Sampai berita ini diturunkan, Godam yang tak jelas asalnya itu belum ditemukan. Namun pemilik asli rumah telah membuat perjanjian dengan pemimpin dan masyarakat adat setempat, bahwa jika dalam dua minggu sejak hari ini rumah tersebut tidak dikosongkan, maka segala isinya akan dimusnahkan atau dibakar. Sementara itu pula, beberapa sumber dari lingkungan sekitarnya mengaku memang sering mendengar lolongan anjing dan suara tangis bayi di tengah malam dari rumah tersebut...
Demikian secara garis besar aku baca berita yang menjadi headline koran itu. Tentu saja masih sebagian besar lagi paragrafnya penuh dengan kalimat-kalimat sensasional, yang mampu menggiring pembaca untuk percaya dan meyakini bahwa rumah itu memang rumah leak atau sarang mistik.

Tanpa tahu alasan yang jelas, aku jadi tersenyum sendiri di dapur.

“Ke mana saja kamu selama ini?” aku bertanya setelah dia menyeruput kopi yang kusuguhkan.

“Heh? Aku sempat tinggal di beberapa tempat. Terakhir, di Sanur,” sahutnya masih dengan tawa panjang yang tak begitu enak didengar. Aku tertegun. Berarti dia belum tahu berita di televisi lokal dan koran itu. Sejenak aku kembali kehilangan cara untuk membuat obrolan kami menjadi lebih akrab.

“Ya, seperti aku bilang dulu, aku sempat membuat studio di Ubud,” sambungnya kemudian.
“Tapi hanya beberapa bulan, lalu aku pindah ke Denpasar. Ada teman yang mengajakku mengerjakan mural di Surabaya. Sementara teman itu juga meminjam beberapa lukisanku yang katanya akan dijual untuk seseorang dari Belanda. Di Surabaya aku hanya dua minggu. Entah mengapa, perasaanku ingin pulang saja. Ketika pulang ke Denpasar, ternyata istriku sudah meninggalkan rumah beberapa hari sebelum aku tiba. Anak-anak kami dititipkannya di tetangga. Aku bingung dan sempat kacau terutama melihat keadaan anak-anakku. Mereka lalu aku bawa pulang ke sini dan aku titip ke orang tuaku. Kemudian aku menghubungi teman yang dulu meminjam lukisan itu. Aku memintanya agar diantar ke tempat di mana dia menaruh lukisan-lukisanku. Aku dijemputnya. Tapi ternyata aku dibawa ke sebuah bedeng tempat buruh-buruh bangunan di Sanur. Di sana tinggal dua belas orang buruh yang menggarap proyek teman tadi. Karena aku tak punya uang, terpaksa aku ikut tinggal di sana.”

“Suatu hari, ketika aku pulang dari suatu tempat, seluruh buruh-buruh itu sudah pergi. Dan mereka ternyata juga membawa beberapa barang serta pakaian-pakaian milikku. Aku bingung lagi. Dan teman itu juga tak pernah muncul lagi.”

“Aku berkali-kali menghubungi teleponnya, tapi tak pernah dijawab. Sementara uangku sudah habis. Aku akhirnya memutuskan tetap tinggal di rumah itu untuk menunggunya. Aku marah. Kecewa. Putus asa,” dia meneguk kopi dan menyulut sebatang rokok lagi.

“Sekian bulan teman itu tak juga muncul. Sementara listrik dan air di rumah itu sudah diputus karena aku tak mampu membayarnya. Berbulan-bulan dalam kesepian, tanpa bekal dan uang sepeser pun, tanpa lampu, tanpa air karena entah kenapa suatu hari ada orang memasukkan bangkai anjing ke dalam sumur bekas yang sebelumnya ada di situ, aku nekat tetap tinggal dan menunggu teman itu menjemputku untuk mempertanggungjawabkan lukisan-lukisanku yang dulu dipinjamnya. Aku juga berusaha mencari pekerjaan, tapi tak pernah berhasil.”

“Selama itu kamu makan apa?” aku menyela.

“Beberapa bulan pertama aku hanya makan bayam, buah terong liar dan buah pisang yang kebetulan ada di sana. Satu tandan pisang bisa aku jadikan persediaan hingga dua atau tiga minggu. Lalu entah bagaimana awalnya, sesekali mulai ada teman-teman lama yang datang. Mereka kadang-kadang memberiku uang sedikit. Aku membeli ubi. Sehari aku makan satu ubi yang aku bakar dengan sampah-sampah di sana. Air minum aku dapat dari sebuah kafe yang tak jauh dari tempat itu. Aku menukar sebotol dua botol air mineral dengan membuatkan mereka ornamen bingkai untuk daftar menu hidangan atau menu acara mereka setiap malam minggu.”

“Aku berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang kafe itu, berharap aku diterima sebagai karyawannya. Tapi mereka tak percaya kalau aku orang waras. Mereka menganggap aku orang setengah gila yang bisa melukis. Itu saja. Mereka tak percaya aku waras karena melihat pakaianku yang kumal dan bau. Saat itu memang hanya tersisa satu celana jean belel, satu celana pendek dan dua buah kaos oblong. Berbulan-bulan aku tak pernah mandi dan mencuci dengan sabun.”

“Kenapa kamu tak pulang saja?” aku memotongnya lagi.

Pertanyaan ini membuatnya terdiam. Lama aku menunggu, tapi dia seperti tak mau bicara lagi. Aku jadi merasa bersalah.

“Selama itu kamu hanya hidup seperti itu saja? Hanya diam saja di rumah itu?” akhirnya setelah dia masih terdiam cukup lama aku kembali bertanya.

“Oh, tidak!” dia langsung menyergap pertanyaanku itu. “Kesepian, kegelapan dan kemiskinan itu akhirnya lama-lama aku nikmati. Aku pikir sekalian aku melakukan tapabrata sebagaimana jaman dulu orang bertapa di hutan. Aku justru menggunakan kesempatan itu untuk menggali-gali imajinasi yang ada di kepalaku. Dengan meditasi sederhana setiap hari, aku menggali-gali, mengingat lalu mengkristalisasikan kepingan-kepingan teori ilmiah yang aku dapat di kuliah seni rupa ITB dulu. Aku menemukan sepotong kain putih bekas di tumpukan kayu bekas bangunan. Aku melukisinya dengan arang dicampur getah pohon jarak berupa ornamen-ornamen rajah Bali yang memang aku minati sejak masih kuliah. Dengan sedikit sisa uang dari teman-teman yang sesekali datang, aku membeli daun lontar dan jarum, karena tak mungkin membeli kain atau kanvas apalagi kuas dan cat. Di daun-daun lontar itulah aku melukis dengan jarum. Lama-lama aku semakin akrab dengan rajah-rajah itu. Sesekali aku sembahyang meminta ijin Dewi Saraswati dan leluhurku untuk memindahkan huruf-huruf rajah itu menjadi bentuk-bentuk rupa di atas daun lontar yang bisa kupetik di sekitar tempat itu. Rajah-rajah itu aku pindahkan ke daun lontar sekemampuan imajinasi dan kontemplasiku. Di samping itu, bambu-bambu sisa bangunan yang berserakan di tanah kosong itu juga aku jadikan media meditatifku sekaligus untuk melupakan rasa lapar. Aku lilitkan benang merah, kuning dan hitam dengan pola perhitungan yang aku ciptakan sendiri. Aku menemukan ranting dan dedaunan kering, juga aku jadikan media yang sama. Suatu hari aku menemukan sebutir kelapa busuk bekas sesajen di tumpukan sampah. Ketika aku tuangkan isinya yang busuk itu, aku melihatnya ada unsur minyak di sana. Minyak dari kelapa busuk itu lalu aku olah dengan arang dari kayu tertentu untuk proses menghitamkan lontar yang telah aku rajah.”

“Dua tahun lebih itu aku lakukan. Memasuki tahun ketiga, di awal bulan ini, tiba-tiba aku merasa menemukan sebuah konsep untuk karya-karya itu. Bahwa semua itu bisa menjadi sebuah instalasi meditatif dari perjalanan hidupku sendiri. Aku lalu menyusun ulang seluruh benda-benda itu. Dan hari itu, aku merasa semuanya sudah selesai. Aku tiba-tiba begitu merindukan anak-anakku yang tak pernah aku jenguk sekali pun. Aku memutuskan pulang. Dengan uang pemberian seorang teman aku bisa pulang. Sudah seminggu lebih aku di sini. Sekarang aku memutuskan untuk mengurus sendiri anak-anakku. Yang paling besar ternyata sekarang sudah kelas dua SD,” dia berhenti sambil menarik nafas panjang seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam dadanya.

Aku memejamkan mata. Tak tahu apa lagi yang harus aku tanyakan atau diobrolkan dengannya. Kami tetap sama-sama diam sampai hari telah menjadi sore dan dia pulang dengan langkahnya yang agak gontai. Entahlah, aku lupa untuk mengantarnya dengan motorku.

Baru saja aku mau mandi, tiba-tiba aku dengar anak tetangga sebelah berteriak di rumahnya. “Rumah leak dibakar! Rumah leak dibakar! Di TV ada rumah leak dibakar!” Aku kaget dan langsung menghidupkan televisi. Ya, dalam siaran berita sebuah televisi lokal, aku lihat sekelompok massa di suatu kawasan di Sanur sedang mengobrak-abrik sebuah rumah kecil kumuh di atas sebidang tanah kosong. Aku lihat orang-orang membongkar rangkaian bambu penuh lilitan benang merah kuning hitam, orang-orang membakar selembar kai putih penuh rajah, orang-orang meludahi setumpuk daun lontar yang juga sudah sebagiannya dibakar, aku melihat orang-orang menghancurkan sebuah tempat sembahyang sederhana, aku melihat police line yang sudah berantakan, aku melihat orang-orang berteriak kalap...

Tanpa pikir panjang aku mengambil sepeda motor menuju rumah Godam.

Seseorang yang kutemui di gang depan rumah orang tua Godam memberitahuku bahwa sahabatku itu sekarang tinggal di rumah kecil di halaman belakang. Aku berjalan kaki karena lorong sempit menuju rumah kecil itu tak cukup untuk dilewati sepeda motor.

Begitu tiba di ujung lorong, aku melihat Godam keluar dari kamar mandi menggendong kedua anaknya yang berteriak-teriak gembira. Aku memutuskan untuk berhenti di sana, memperhatikannya dari jauh. Dia tak melihat kehadiranku. Aku lihat dia mengenakan pakaian kepada anak-anaknya, menyisir rambut anak-anaknya yang lalu duduk dengan tertib di sebuah balai-balai bambu di emper depan rumah itu. Lalu dia masuk ke sebuah bilik kecil. Sejurus kemudian dia keluar membawa dua piring berisi nasi untuk anak-anaknya. “Pakai garam saja, nak, ya?” ujarnya yang segera ditanggapi dengan anggukan senang kedua anak kecil itu.
Saat itu juga aku berbalik. Aku pulang saja. Dalam perjalanan pulang itu aku menangis. Aku terbayang sebuah kata indah: kesenian...


Bali, di sebuah Januari

Read More......

Minggu, 27 Juli 2008

Dongeng

“CERITAKAN padaku sebuah dongeng. Apa saja,” demikian pesan pendek itu tertulis dalam layar handphone-ku. Di bagian atas pesan itu tertera nama seorang gadis remaja yang belum lama ini aku kenal di suatu tempat di kotaku.

Malam yang berhujan. Daun-daun riuh oleh tikaman air yang lebih meniru rupa jutaan lidi-lidi tajam yang dihempaskan begitu saja dari langit. Lensa kaca mataku tiba-tiba terasa perlu digosok. Stasiun Kereta Api Gubeng – Surabaya, di mana aku menunggu sebuah kereta berangkat ke Banyuwangi kemudian akan menyambungkan perjalananku ke Denpasar dengan bus milik perusahaan kereta itu juga, mendadak jadi sesuatu yang serba kelam, tua dan seperti telah lama sekali ditinggalkan.

Apa gerangan maksud gadis remaja itu tiba-tiba meminta aku mendongeng? Aku tak segera menanggapi pesan pendek itu. Dalam gemuruh hujan yang kian deras, aku mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan kenangan saat aku mengenalnya pertama kali.
***

ADA cahaya merah remang yang seperti tersipu di ruang seluas lima belas kali dua puluh meter itu. Ada denting gelas dan botol-botol softdrink bercampur bau tipis alkohol di antara alunan nomor-nomor jazz ringan yang merambat singgah ke setiap meja. Ada berbagai bau parfum yang juga merambati ruang bersama udara delapan belas derajat Celcius yang dihembuskan empat buah AC di langit-langit. Ada suara-suara tawa dan gumam yang tertahan dari hampir setiap meja. Kafe, ya kafe kecil itulah yang mempertemukan kami pertama kali.

Sesudahnya, sekali pernah kami bertemu di taman kota sore hari. Waktu itu aku mendapat kesempatan dari mantan istriku untuk mengajak dua anak-anak kami yang kini kelas empat dan kelas satu sekolah dasar untuk berjalan-jalan. Aku bertemu gadis remaja itu dengan seorang pemuda gondrong bersemir merah di dalam sebuah sedan yang diparkir di bawah pohon palem. Dia yang menyapa lebih dulu.

“Inikah anak-anakmu?” ujarnya seraya keluar dari sedan itu. “Sudah besar-besar ya. Kapan ke sini?” tanyanya lagi seraya mencoba menyalami kedua anakku yang terlihat bingung karena merasa tak mengenalnya.

“Sudah seminggu. Mari, kami mau jalan-jalan dulu,” potongku cepat. Aku melihat anak muda gondrong di dalam sedan itu agak terganggu oleh kehadiranku dan anak-anak.

“Hati-hati ya. da da...,” gadis remaja itu melambaikan tangan sembari masuk lagi ke dalam sedan.

Pernah pula aku melihatnya sekitar jam sembilan malam keluar dari dalam kafe tempat kami bertemu pertama kali. Kami tak sempat bertegur sapa. Aku yang baru datang dan memarkir motor, hanya sempat melihatnya tergesa masuk ke sebuah van warna gelap lalu melesat menembus malam.

Terakhir aku melihatnya masih dengan seragam sekolah di sebuah swalayan menjelang petang. Aku melihat gadis remaja itu di etalase sepatu. Dia tampak gembira sekali melihat-lihat pajangan sepatu sehingga tak sempat melihatku. Pundaknya dipeluk oleh seseorang, lelaki setengah baya yang saat itu masih berpakaian safari kantor – mungkin ayahnya. Dan aku tak ingin mengganggunya. Aku cepat-cepat berbelok ke lorong lain menuju pusat barang elektronik.
***

“CERITAKAN padaku sebuah dongeng. Apa saja,” demikian malam ini gadis remaja itu menulis pesan pendek ke handphone­-ku. Malam yang berhujan. Daun-daun riuh oleh tikaman air yang lebih meniru rupa jutaan lidi-lidi tajam yang dihempaskan begitu saja dari langit. Lensa kaca mataku tiba-tiba terasa perlu digosok. Stasiun Kereta Api Gubeng – Surabaya, di mana saat itu aku menunggu kereta berangkat ke Banyuwangi, mendadak jadi sesuatu yang serba kelam, tua dan seperti telah lama sekali ditinggalkan.

Masih juga aku belum menanggapi pesan pendek itu. Setelah merangkai kembali kepingan-kepingan kenangan perkenalan dan perjumpaan kami yang beberapa kali itu, aku masih bertanya-tanya sendiri, penasaran. Apa maksud gadis remaja itu tiba-tiba meminta aku mendongeng? Adakah ia pikir aku selama ini tukang dongeng? Ataukah dia sedang menyindir bahwa apa-apa yang aku kerjakan sebagai wartawan selama ini hanya dongeng? Aku jadi gelisah. Kalau demikian, berarti aku harus bertemu dengannya, menjelaskan bahwa semua yang menjadi berita-berita di koranku itu fakta adanya. Sama sekali bukan dongeng. Bahwa, aku bukan pendongeng.

Ah, tiba-tiba dia memintaku mendongeng. Jangan-jangan dia serius dan memang ingin sekali didongengi. Tapi kenapa dia menyuruhku dan bukan orang lain? O, mungkin dia tidak punya orang lain. Setidak-tidaknya, mungkin dia tak punya kakak atau ibu atau nenek yang bisa mendongeng untuk dirinya. Baiklah, aku siapkan sebuah dongeng. Di dalam kapal saat suatu kali menyeberang di selat Bali, aku pernah membeli sebuah buku dongeng. Aku masih ingat beberapa dongeng di dalamnya dan bisa saja aku ceritakan pada gadis remaja itu sekarang.

Tapi tunggu! Jangan-jangan dia benar-benar sedang menyindirku. Dengan kata yang lebih kasar, sesungguhnya dia berkata bahwa apa yang kukerjakan selama ini yang kemudian kusebut sebagai berita-berita, sebagai laporan utama, opini dan sebagainya itu baginya tidak lebih sebagai sebuah dongeng pengantar tidur. Sialan, aku tersinggung. Aku bingung.

“Tapi, memang adakah yang bukan dongeng di dunia ini? Apakah yang sesungguhnya bukan dongeng?” Seorang perempuan tua di sebelahku – yang sama-sama menunggu kereta berangkat – yang dengan terpaksa aku tanyai dongeng apa yang bagus untuk seorang gadis remaja, balik bertanya.

“Tentu saja banyak, Bu,” jawabku hormat.

“Apa misalnya?”

“Hm, banyak. Banyak sekali. Misalnya...,” entah kenapa aku tiba-tiba lambat sekali berpikir.

“Ayo, apa yang bukan dongeng? Demokrasikah? Pemerintahkah? Ataukah barangkali rakyat macam kita yang bukan dongeng?”

“Astaga, Bu! Saya, saya hanya....”

“Sebentar! Saya juga mau tanya kepada sampean, apa yang bukan dongeng?” Perempuan tua itu bertambah ngotot.

Aku mulai merasa njelimet. Hanya gara-gara bertanya dongeng apa yang bagus untuk seorang gadis remaja, seorang perempuan tua bahkan tiba-tiba menjadi begitu marah. Maka aku diam. Aku biarkan entah apa lagi yang dikatakan perempuan tua di sebelahku itu.

Aku jadi teringat berbagai berita buruk yang aku tulis dan juga ditulis teman-temanku sesama wartawan di berbagai media massa. Ada yang menulis berbagai bencana, soal kemiskinan, ketakadilan, soal korupsi di berbagai instansi, manipulasi besar-besaran di berbagai bank dan di berbagai sumber keuangan milik negara. Adakah berita-berita mereka itu telah bisa memperbaiki atau setidaknya merubah keadaan menjadi lebih baik? Ada juga yang menulis soal berbagai pembunuhan di berbagai tempat. Apa pula maksudnya? Adakah laporan-laporan mereka itu untuk membuat orang-orang menjadi ngeri dan menyadari bahwa pembantaian itu adalah sesuatu yang keji dan tak manusiawi? Tetapi kenapa setiap keesokan harinya masih saja ada pembunuhan dan pembantaian-pembantaian baru yang kembali ditulis dan diberitakan? Bahkan, kenapa dalam sebuah bangsa terus saja ada pembantaian satu sama lain yang tak kunjung henti? Kenapa sebuah bangsa bisa saling bantai dan saling melenyapkan satu sama lain?
Aku makin jelimet. Kalau begini terus aku bisa mampus sendiri di tengah-tengah tertawaan orang yang melihat aku sebagai binatang aneh dengan sesuatu yang keluar menjulur-julur dari kepalaku.

Maka, baiklah adik, aku dongengkan saja untukmu sesuatu yang paling sederhana: cinta!

Dan kereta api berangkat. Maka dalam kereta yang bergemuruh merangkaki malam itu aku pun mendongengkan sebuah cinta. Aku terus mendongeng, sampai gadis remaja itu benar-benar terlelap di sebuah kamar, entah di mana.***


Surabaya – Bali, suatu malam

Read More......

Ke Setiap Rumah Lelaki yang Menjadi Ayah

“PERNAHKAH ayah berpikir, bahwa cukup pantaskah ayah disebut seorang pahlawan bagi kami?” tiba-tiba lima anak saya bertanya serempak. Pertanyaan itu mereka utarakan ketika saya sedang bersantai menikmati cuaca sore yang cerah di kebun belakang rumah kami yang sederhana, di atas kursi goyang antik oleh-oleh salah satu menantu, di tengah hamparan rumput kasur nan hijau, di antara berbagai tanaman perdu tertata rapi, di sudut barat laut kolam kecil buatan seorang tukang taman paling ternama di kota kami.

Saya terkesima. Takjub memandang mulut-mulut yang menempel indah di wajah anak-anak saya dari yang paling besar hingga yang paling bontot itu. Saya terkesima oleh kekompakan mereka. Tumben mereka menghadap saya sekompak itu. Sebelumnya tak pernah. Sebelumnya, entahlah.

Saya pandangi satu persatu tiga sosok gagah-gagah dan dua sosok cantik-cantik itu. Inilah mereka. Lima generasi penerus saya yang gagah-gagah dan cantik-cantik. Lima sosok buah cinta saya dengan istri, yang kini semuanya telah menjadi manusia dengan pekerjaan serta status masing-masing, yang bahkan telah memberi saya sejumlah cucu yang lucu-lucu dan bengal-bengal. Inilah mereka, lima anak-anak saya yang sekarang tumben-tumbennya datang berkumpul menghadap saya dan bertanya: “Pernahkah ayah berpikir, bahwa cukup pantaskah ayah disebut pahlawan bagi kami?” Edan! Mereka mendesak saya. Memojokkan saya ke suatu sudut yang paling samar dalam tempurung kepala saya. Menekan tubuh saya ke dalam ruang tak berdimensi di dada saya. Sialan! Saya menyipitkan mata, mencoba berpikir.

Selama ini, apa yang telah saya perbuat dan berikan kepada mereka? Saya mencintai istri saya, lalu mereka lahir satu persatu. Lalu saya dan istri saya merawatnya, memeliharanya sebagaimana orang lain melakukannya. Saya dan istri membesarkan mereka dengan segala sesuatu yang lumrah, sederhana, sesuatu yang mengalir sesuai dengan irama kehidupan yang kami temui, yang kami jalani.

Saya dan istri telah membesarkan anak-anak dalam sebuah keluarga yang menurut saya wajar-wajar saja dan sebagaimana mestinya. Kalau mereka saya anggap bersalah, saya menegurnya. Kalau mereka saya anggap nakal, saya memarahinya. Memukul pantatnya atau menjewer telinganya, sesekali menstrapnya berdiri menghadap tembok beberapa puluh menit. Saya memuji atau memberi hadiah untuk sesuatu yang membuat mereka pantas menerimanya. Mengajak mereka bercanda, berdiskusi, berbeda pendapat, atau menyepakati suatu hal atau mengajak mereka melupakan sama sekali hal-hal yang patut dilupakan. Saya mengajak mereka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang pantas mereka kerjakan.

Sumpah! Saya sungguh merasa telah memberikan semuanya kepada mereka, kepada anak-anak saya itu. Mengajak mereka menjalani dan menikmati kehidupan ini dari tetesan keringat saya yang paling perih sampai ke dalam kejayaan yang paling mashyur dalam sejarah hidup saya. Bahkan darah dan sumsum tulang saya telah saya berikan. Napas saya. Jiwa saya. Cinta saya. Kasih sayang saya. Nurani saya. Ketakberdayaan saya. Kegilaan saya. Apa-apa saya.

Dan sekarang, tiba-tiba mereka datang serempak dengan mulut yang kompak bertanya kepada saya: “Pernahkah ayah berpikir, bahwa cukup pantaskah ayah disebut seorang pahlawan bagi kami?”

Sialan! Betapa manis-manisnya mereka saat mengucapkan kata-kata itu. Betapa sederhananya mimik mereka saat memberondongkan pertanyaan itu tepat ke jidat saya. Dan alangkah tiba-tiba remangnya cakrawala di atas kepala saya. Saya tak mengerti, kenapa tiba-tiba saya merasa terdesak di sebuah sudut yang paling samar dalam pengalaman saya. Kenapa tiba-tiba saya merasa tertekan pada suatu wilayah tanpa dimensi.

Mata saya berkunang-kunang. Mungkin agak capek. Dan mereka, kelima anak-anak saya itu, belum juga bergerak sedikit pun dari depan saya. Mereka masih menunggu. Malah kelihatan semakin berhasrat akan jawaban dari mulut saya. Dalam kesamaran pandang, saya lihat mereka tak berkedip menatap saya. Bahkan napas-napas mereka terasa menyentuh pipi dan tembus ke tengkuk saya. Saya pejamkan mata. Kursi goyang terasa bergerak sendiri. Mengayun-ayun tubuh dan perasaan saya.

Entah berapa lama, saya terus bisu. Lalu saya merasakan tangan-tangan mereka, tangan-tangan anak-anak saya itu mulai tak sabar. Mereka mulai mengguncang-guncang tubuh saya. Dan mulut-mulut mereka masih mengulang pertanyaan yang sama: “Pernahkah ayah berpikir, bahwa cukup pantaskah ayah disebut seorang pahlawan bagi kami?”

Saya rapatkan kelopak mata. Sampai kemudian perlahan-lahan saya merasakan tangan-tangan itu mulai menggerayangi tubuh saya. Mula-mula mereka mencongkel-congkel kelopak mata saya dengan telunjuk, lalu mereka mendongkel mulut saya dengan seluruh jari-jari mereka. Kemudian tangan-tangan itu berpindah ke dada saya. Tangan-tangan yang kekar dan tangan-tangan yang halus itu mulai menarik-narik kulit perut dan juga tulang iga saya, mengangakan seluruh rongga dada saya. Mereka mengorek-ngorek terus di sana. Mencari dan terus mencari dengan semakin penasaran. Kian lama tangan-tangan itu kian tak terkendali. Dan dengus napas mereka pun berubah menjadi lenguh mahluk yang tak saya kenal sama sekali. Tapi saya tetap bisu. Saya tetap...

Barangkali wajah, dada, perut, kepala dan seluruh tubuh saya telah porak poranda oleh mereka ketika saya membiarkan diri saya melayang perlahan-lahan dari kursi goyang itu. Saya melayang meninggalkan mereka. Meninggalkan tanaman perdu, rumput hijau, kolam kecil..., dan dengan diam-diam saya melayang terbang menuju ke setiap rumah lelaki yang menjadi ayah.***


Bali suatu senja.
Untuk almarhum Wayan Mandra, ayahku, yang telah mengajarkan kehidupan dan cinta yang sederhana kepada kami anak-anaknya

Read More......
 

Home | Blogging Tips | Blogspot HTML | Make Money | Payment | PTC Review

cerita pendek NANOQ DA KANSAS © Template Design by Herro | Publisher : Templatemu